“You are pretty much like the ocean. Somehow I missed you alot, but you scare me of getting lost on you”

 

Berpenggal-penggal kisah telah melewati indra pendengar kita, tentang dia, bukan, bukan tentang dia, bahkan tentang mereka, generasi muda yang terombang-ambing di lautan lepas samudra asmara. Di antara mereka ada yang memang merelakan dirinya hanyut dan tenggelam, sebagiannya berupaya berenang ke tepian dalam usaha mereka yang memiliki beragam kesungguhan, dan nampak pula satu dua mereka yang kokoh menaiki bahtera keselamatan. Bicara tentang cinta memang tak ada habisnya, kabut kesamaran pun selalu menyelimuti hati tatkala kita bertanya manakah bedanya antara cinta, nafsu, ataukah sekedar fenomena biologis sewajarnya remaja yang sedang aktif memproduksi hormon kedewasaan. Saking kaburnya dunia cinta sampai-sampai setan pun tak mau melewatkan kesempatan bermain di dalamnya. Dengan akal bulusnya setan memperdaya manusia mengatasnamakan cinta, membutakan sebagian besarnya bahkan memabukkan tak sedikit mereka hingga benar-benar hilang akal sehatnya. Dengan dalih cinta yang membabi buta, butalah mata dan tulilah telinga hingga terhapuslah seluruh batas norma dan agama. Lalu bagaimana Islam memandangnya dan bagaimanakah hendaknya kita bijak dalam menyikapinya?

 

Kita tentu sering mendengar banyaknya penyeru berucap bahwa cinta dalam Islam pun ada aturannya. Tentang bagaimanakah cinta, salah satu bagian paling indah dari dunia ini telah memiliki porsi pembahasannya tersendiri dalam jalan hidup paripurna.  Namun yang jadi pertanyaan, apakah kita bersedia menjadikannya pegangan di masa penuh godaan? Adalah benar bahwa cinta adalah karunia tuhan, bahwa cinta adalah sebuah kenikmatan dunia. Lantas telah cukup kah kita mengerti bagaimana mensyukuri nikmat cinta dan membawanya ke arah yang Allah inginkan agar nantinya membuahkan nikmat-nikmat selanjutnya? Setidaknya kita patut menyimak satu alasan pentingnya menempatkan cinta pada kedudukannya,
Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ.: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah ﷺ bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ. bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai.

(Shahih Muslim No.4775)

 

Sebab di sini kita pun saling menasihati dengan dorongan rasa cinta sesama muslim di saat melihat saudaranya tersiksa karena cinta.
Rasulullah ﷺ bersabda:

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.

 

(Shahih Muslim No.4685)

 

Patutkah manusia itu mendiami beragam tempat tinggal namun memendam kerinduan pada tempat tinggalnya semula, surga yang nyata, padahal dia memalingkan hatinya pada apa saja sedang tidak bersisa pada hatinya cinta pertama pada Allah Azza wa Jalla. Maka marilah kawan kita mulai kembali membenahi hati kita. Hendaknya kita mulai bersemangat mendatangi majelis yang di dalamnya diajarkan bagaimana mencintai Allah dan RasulNya.

 

Nabi ﷺ bersabda:

Seorang hamba tidak beriman sebelum aku (Muhammad ﷺ) lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.

(Shahih Muslim No.62)

 

Tanpa perlu mencari banyak alasan pun kita tahu bahwa mencintai Allah dan RasulNya tidak pernah berbuah pahit. Tidak akan muncul pertanyaan seperti, “Adakah dia menyimpan rasa yang sama ?”. Sebab menjadi muslim adalah salah satu bukti bahwa Allah tengah mencintainya, yang tersisa ialah pertanyaan pada diri sendiri bagaimana kita mengejar bentuk cinta Allah yang selanjutnya. Karena sungguh dirinya yang kepemilikannya belum pasti, tak semestinya mendominasi dan menguasai isi hati.

Ditulis oleh: Abu Sulaiman

Adakah Dia Menyimpan Rasa yang Sama ?
Tagged on:     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *