NILAI SEBUAH WAKTU

Jarum jam terus berputar, detik dan menit berjalan meninggalkan apa yang telah terjadi. Lembar kalender pun telah berubah, menandakan bahwa bulan dan bahkan tahun melewati kita silih berganti. Diri kita yang dulu masih bermain dengan teman sebaya, kini sudah disibukkan dengan berbagai tugas sekolah dan tanggung jawab kepanitiaan.

Di sisi lain, kita menyadari banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari pekerjaan rumah, membantu orang tua sampai tugas-tugas sekolah kita yang setiap hari kian terasa menumpuk saja. Mulai berpikir apakah waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan tidak cukup bagi kita?

Lalu mari kita coba merenung, ternyata 24 jam yang telah Allah berikan kepada kita, untuk apa saja kita habiskan? Untuk tidur saja kita sudah menghabiskan lebih dari seperempat waktu kita, kemudian untuk mengobrol dan berbincang dengan teman kita mungkin sampai berjam-jam kita habiskan. Belum lagi waktu yang kita gunakan di depan laptop dan smartphone kita.

Astaghfirullah.. Ternyata bukan waktu 24 jam seharinya yang kurang, akan tetapi kita saja yang banyak waktu terlewatkan dengan begitu saja. Kemudian mari kita ingat sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dua nikmat yang banyak mausia tertipu di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari).

Betapa banyak manusia (semoga kita bukan termasuk di dalamnya) yang memiliki kesehatan dan memiliki banyak waktu luang, kemudian menggunakannya bukan dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Sehingga sampai waktu sempit datang kepadanya, dia merasa bahwa waktunya teramat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Ketika datang sakit kepadanya, diapun menyadari bahwa badannya telah digunakan untuk banyak melakukan perbuatan yang sia-sia.

Sampai pada suatu masa, ketika seorang telah dicabut nyawa dari tubuhnya. Orang tersebut mengalami penyesalan dan meminta kepada Allah ‘azza wa jalla untuk dikembalikan ke dunia. Apakah dia ingin agar bisa merasakan kelezatan makanan yang belum pernah dirasakannya? Ataukah dia ingin singgah ke tempat dan negeri yang belum pernah dia kunjungi? Ternyata tidak, yang dia minta hanya kembali ke dunia agar bisa melakukan amal sholih yang telah ia lewatkan. “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata,”Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100)

Lalu, apakah semua orang lalai akan waktunya? Apakah semua orang merugi dengan kehidupannya? Ternyata ada orang yang dikecualikan darinya, yaitu mereka yang beriman, beramal sholih, menasehati dalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran. Mereka yang memanfaatkan waktunya dengan ketaatan dan menanam kebaikan untuk nantinya dipanen di akhirat.

Mari kita coba tengok, betapa banyak karya yang telah dihasilkan oleh para ulama terdahulu. Berapa jilid tulisan yang telah mereka hasilkan. Padahal usia mereka tidak jauh berbeda dengan manusia zaman sekarang. Lalu apa bedanya? Allah berkahi waktu mereka sehingga hari-hari mereka penuh dengan kebaikan.

Lalu apa bedanya? Allah berkahi waktu mereka sehingga hari-hari mereka penuh dengan kebaikan.

Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Amir bin Abdi Qais, bahwa ada seorang pria berkata kepadanya,”Berbincang-bincanglah denganku.” Amir bin Abdi Qais menjawab,”Tahanlah matahari.” Maksudnya Amir baru akan berbincang-bincang bila pria tersebut dapat menghentikan perputaran matahari, padahal hal tersebut mustahil. Amir menjawab demikian karena kegigihannya dalam menjaga waktunya.

Disebutkan juga bahwa salah seorang ulama yang masyhur dengan karyanya Riyadush Shalihin, Imam Nawawi. Dalam sehari, beliau mempelajari 12 pelajaran. Suatu hal yang luar biasa di saat kita banyak mengeluh ketika belajar di sekolah atau di bangku perkuliahan.

Oleh karena itu, penting kiranya bagi kita untuk bisa mengatur waktu sebaik mungkin. Di antar hal yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Bangun tidur sepagi mungkin. Dengan demikian kita dapat mengerjakan shalat shubuh berjamaah dan dapat memiliki alokasi waktu yang cukup longgar.
  2. Perhatian dengan sholat lima waktu. Allah telah mensyariatkan bagi kita sholat sehari semalam lima waktu. Dengan mengerjakannya di awal waktu, kita dapat menjadi pribadi yang disiplin dan lebih menghargai waktu.
  3. Membuat prioritas. Yaitu, mendahulukan tugas atau kegiatan yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Hal ini membuat kita dapat fokus dalam menyelesaikan setiap pekerjaan satu per satu.
  4. Menghadiri majelis ilmu dan membaca al-quran. Di tengah kesibukan kita, sudah sepatutnya kita tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk tidak membaca al-quran dan menghadiri majelis ilmu.

Sudah saatnya bagi kita untuk tidak menyiakan waktu yang telah diberikan kepada kita. Setiap orang telah memiliki jatah waktunya dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah ‘azza wa jalla.

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya …” (HR. At-Tirmidzi no. 2417).

_______________________________________________

Ditulis oleh Akh Habib Zainal Arifin. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Semoga Allah berkahi dan ampuni dirinya dan keluarganya.

 

Buletin Muslim Pelajar edisi 2 : Nilai Sebuah Waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *