KEMANA MASA MUDAKU MELANGKAH ?

Pernah nggak sih kita merasa gimana gitu, ketika ngeliat temen kita yang cowok, yang sekarang udah rajin ke masjid, atau artis yang jadi semangat ikut kajian, jadi menjaga pergaulan. Atau temen cewek kita, atau artis yang dulu jilbaban aja jarang-jarang, sekarang jilbabnya udah gede nutupin dada dan lengan? Yang dulu hobinya pacaran, tapi sekarang diajak salaman lawan jenis saja tidak mau? Yang dulu jarang shalat, suka ngomong kotor, sekarang dia selalu ada di shaf pertama, dan ternyata sering ngaji dan ndengerinmewaris murottal?

Mungkin aneh ya, kok bisa mereka mau-mau nya meninggalkan kenyamanan dan fasilitas dunia yang telah mereka dapatkan dan lebih memilih “jalan hijrah” itu. Mungkin se-aneh Suhaib Ar-Rumi, seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang rela meninggalkan berhektar-hektar kebun nya agar ia bisa bergembira berhijrah ke Madinah. Atau se-aneh Abu Bakar Ash-Shidiq, yang menangis bahagia ketika diizinkan menemani Nabi Muhammad berhijrah, berjalan menempuh ratusan mil perjalanan memutar kota Mekkah dalam kejaran pasukan kafir Quraisy, sebuah perjalanan berbahaya menuju Madinah.

Aneh memang ya keliatannya? Tapi demikianlah ketika hidayah telah menyapa hati, ketika dia menyadari bahwa tujuan ia berada di dunia ini adalah semata untuk menunduk sembah kepada Sang Pencipta. Ketika mereka merenungi, bahwa hanya dengan itu pula kebahagiaan dapat dirasa. Bukan dengan kebanggaan atas daftar perempuan cantik yang ia pacari, atau deret album yang ia ciptakan, atau foya kenikmatan syahwat lainnya yang ia nikmati sambil durhaka menerjang larangan-laranganNya.

Bukan kawan, bukan dengan kenikmatan semu itu kita meraih kebahagiaan. Kenikmatan semu itu, yang diraih dengan mengorbankan ketaatan kepada Allah sang Ar-Rahman, hanyalah kenikmatan yang kan mewariskan kegusaran yang akan selalu merasa kurang, kegundahan karena khawatir kehilangan, penuh khawatir dan khawatir, meskipun semua nikmat itu telah ia cicipi, tapi kebahagiaan tak kunjung menghampiri. Lihatlah Qorun, bukankah ia adalah pemilik harta yang paling banyak pada zamannya? Tapi kau tahu kawan, justru dia menjadi orang yang paling bakhil, pelit, dan paling takut jatuh miskin dan amat takut kehilangan hartanya. Begitu pula lihatlah Fir’aun, betapa ia merupakan raja yang amat berkuasa, namun ternyata ia menjadi orang yang paling gelisah, dan amat khawatir kehilangan tahta. Bahagiakah mereka? Sama sekali tidak kawan. Mereka kaya akan perbendaharaan dan kenikmatan dunia, akan tetapi hatinya miskin, layu dan penuh kesengsaraan, amat jauh dari rasa kebahagiaan.

Atau tanyakan pada diri-diri kita sendiri, pada perempuan yang rela membuka perhiasan tubuhnya demi bualan predikat “cantik” dari lelaki sekitarnya, pada orang yang masih asyik berpacaran, pada orang-orang yang acap meninggalkan panggilan adzan hanya untuk berbincang, duduk tertawa hingga waktu shalat berlalu begitu saja. Jujurlah pada hati, dengan pacar kesayangan, apakah kau telah menemukan kebahagiaan, atau justru semakin hari kau menjadi semakin sedih dan galau penuh khawatir kehilangan “cinta-nya”? Pada aurat yang kau tampilkan, demi gelar kecantikan yang kau banggakan, sudahkah engkau temukan kebahagiaan? Atau justru semakin hari kau semakin gusar, khawatir khayalak meninggalkanmu? Bagaikan meminum air laut, bukan kesegaran yang diinginkan, tapi ternyata semakin ia teguk, semakin dahsyat dahaga yang ia rasakan.

Tidak bisa kawan, kita tidak bisa membohongi hati ini. Ketika kita menjauhi Allah, menerjang larangannya, fitrah hati ini tidak kan bahagia. Jujurlah, pasti kita merasakan hal yang sama.

Karena sungguh kebahagiaan yang hakiki itu hadir ketika kita menyadari tujuan penciptaan kita di dunia ini, yaitu ketika hati semakin dekat beribadah kepada Sang Pencipta, kita akan bahagia. Kenapa? Karena memang kita diciptakan untuk itu. Bukankah hanya Dia pula yang bisa mencurahkan rasa bahagia? Lalu mengapa kita justru berlari menjauhi-Nya? Bagaimana kita bisa bahagia, sementara kita sedang mendurhakai Pencipta jiwa kita?

Bahagia itu kawan, tidak harus selalu senang gembira, yang terkadang diraih dengan harus mendurhakai Allah dan meninggalkan perintah-Nya. Bukan kawan, itu kebahagiaan semu.

Akan tetapi bawalah hati ini jujur ke jalan-Nya, hijrah menempuh ridho Sang Pencipta, agar kebahagiaan itu datang, meskipun terkadang diri harus menitikan air mata, memupuk sabar dan lapang iman ketika menjalankan perintah-perintah-Nya. Meskipun terkadang mendung hati menghampiri, ketika pada tapak-tapak hijrah itu, ada keinginan yang harus diurungkan, ada nafsu yang harus dilawan. Tapi disanalah letak kebahagiaan, enjoy, hepi, yang selama ini kita cari-cari.

Ayo kawan, saling membersamai di jalan hijrah, sebuah jalan yang begitu indah. Bukankah itu yang selalu kita minta di setiap shalat kita? Ihdinash-shiratal-mustaqiim “Ya Allah tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Tak mau-kah engkau, menikmati perjalanan yang bahkan raja-raja dunia saja belum tentu merasakannya? Seorang Ulama pernah berkata, menggambarkan kenikmatan hijrah yang ia rasakan;

Seandainya para raja dan anak raja mengetahui rasa bahagia yang kami rasakan, tentu mereka akan memerangi kami dengan pedang-pedang demi mendapatkannya”

Mari kawan, melangkah bersama meniti jalan hijrah, kita susul kawan kita yang telah lebih dahulu berhijrah. Sungguh kawan, mereka-pun dulu dalam kelam hitam kemaksiatan yang mereka anggap kenikmatan. Mereka-pun dulu sama dengan kita, bernikmat-nikmat merasakan lezat syahwat. Sama, merekapun telah merasakannya. Namun mereka sudah berhijrah, dan kita belum merasakan kenikmatan yang mereka dapatkan setelah hijrahnya. Kenikmatan, yang seandainya kita tahu betapa nikmatnya, tentu kita kan berlomba tuk pula meraihnya.

Ialah kenikmatan, kebahagiaan berhijrah kepada Allah. Mempertemukan hati kepada ridho Sang Pencipta.

Selepas membaca tulisan ini kawan, nanti ketika adzan shalat berkumandang, bersegeralah kau hampiri panggilan itu, dan mulailah tuk senantiasa shalat berjamaah di awal waktu. Atau engkau saudari-saudariku, Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam gelarkan engkau sebagai perhiasan terindah di dunia ini, maka marilah tutup perhiasanmu, tutuplah auratmu, jadikanlah ia permata, yang terbungkus indah karena kemuliaanya.

Akhirnya, selamat berhijrah kawan.

_______________________________________________

Ditulis oleh Akh Wildan Salsabila, S.Farm. Alumnus SMA Negeri 1 Yogyakarta dan Alumnus Universitas Gadjah Mada, sekarang sedang menempuh studi lanjutan di universitas yang sama. Semoga Allah berkahi dan ampuni dirinya dan keluarganya.

Buletin Muslim Pelajar edisi 1 : Kemana Masa Mudaku Melangkah?
Tagged on:                                                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *