Cara Meninggalkan Perkara Sia-Sia

0
154
views

cara meninggalkan perkara sia-sia

Cara Meninggalkan Perkara Sia-Sia

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalat nya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” –Q.S. Al Mu’minum, ayah 1-3

Meninggalkan kemaksiatan adalah kewajiban, adapun meninggalkan kesia-siaan adalah sebuah keutamaan. Modal utamanya adalah keimanan, juga ditambah kesadaran akan pilihan. Memilih untuk menjadi lebih baik, meninggalkan apa-apa yang kalah baik.

Telah beredar banyak tips dan nasihat mengenai hal ini. Kendati demikian, ijinkan saya berbagi beberapa nasihat konkret yang tengah dicoba dan diperjuangkan oleh diri saya pribadi. Bersifat aplikatif, tetapi insyaallah akan disambung nasihat teoritis pada tulisan lainnya, di lain waktu. Insyaallah.

1. Berniat sungguh-sungguh untuk mengejar ridhoNya
2. Pelajari ilmu agama
3. Perbanyak berdo’a kepada Allah
4. Ciptakan momen perubahan diri
5. Cintai diri sendiri
6. Tahsin bacaan Al-Qur’an, kemudian memperbanyak membaca Al-Qur’an
7. Ikuti Ziayadah Al-Qur’an, Camp Al-Qur’an, dan kegiatan semisalnya
8. Miliki Al-Qur’an saku
9. Miliki cita-cita menghafal Al-Qur’an dan segera memulai menghafalnya
10. Miliki banyak amal sholeh ringan
11. Ciptakan lingkungan yang baik dan kondusif
12. Agendakan kegiatan, hingga agenda pengisi waktu luang disela kegiatan

Penjelasan..

1. Berniat sungguh-sungguh untuk mengejar ridhoNya. Sesungguhnya balasan dari suatu amal itu tergantung pada niatnya. Sebaik apapun amal, apabila diniatkan untuk mengejar dunia dan tidak mengharapkan akhirat, maka tidak akan berpahala. “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. ….” (Mutafaqun ‘alaih)

2. Pelajari ilmu agama. Menempuh jalan kebaikan itu berat, kecuali yang didasari oleh keimanan kepada Allah. Mempelajari ilmu agama, terutama tauhid akan menyempurnakan iman dan buah keimanan adalah kemudahan dalam beramal kebajikan. “… Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga. ….” (H.R. Muslim)

3. Perbanyak berdo’a kepada Allah. Tidaklah seseorang dapat menjauhkan dirinya dari kemaksiatan kecuali dengan pertolongan Allah. Begitu pula dengan perkara menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah supaya Allah memberi kemudahan dalam usaha menjauhi perbuatan maksiat dan perbuatan sia-sia. Toh sebaik-baik do’a adalah meminta petunjuk kepadaNya. “Tunjukilah kami jalan yang lurus, ….” (Q.S. Al Fatihah, ayah 7)

4. Ciptakan momen perubahan diri. Hidayah itu dikejar. Salah satu hal termudah mendapatkan hidayah adalah dengan menciptakan momen untuk memperbaiki diri. Mendaftar pondok, ikut mulazamah, belajar baca kitab, dan lain-lain. Ciptakan momen yang mampu menjadi titik balik perubahan diri menjadi lebih baik. Jangan hanya menunggu tanpa usaha, karena itu bukanlah tawakal. “Tawakal adalah menyandarkan permasalahan kepada Allah dalam mengupayakan yang dicari dan menolak apa-apa yang tidak disenangi, disertai percaya penuh kepada Allah Ta’ala, dan menempuh sebab (usaha) yang diizinkan syari’atí.” (Syaikh Ibnu Utsaimin)

5. Cintai diri sendiri. Amal apapun yang dilakukan seseorang akan kembali kepadanya, baik amal buruk maupun amal baik. Oleh karena itu upaya menyibukkan diri pada kebaikan adalah upaya nyata untuk memberikan kebaikan pada diri sendiri dan menghindarkan diri dari keburukan. “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (Q.S. Ar Rohman, ayah 60)

6. Tahsin bacaan Al-Qur’an, kemudian memperbanyak membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an merupakan satu diantara sekian banyak amalan ringan yang sangat disarankan untuk dijadikan kebiasaan. Oleh karena itu, perlu kiranya untuk sesegera mungkin melakukan tahsin bacaan Al-Qur’an supaya dapat membaca Al-Qur’an sesuai standarnya, paling tidak standar minimal, yaitu tidak salah pelafalan hurufnya hingga mengubah maknanya. Mampu membaca Al-Qur’an sesuai standar minimal ini hukumnya wajib, karena seorang muslim wajib membaca sura Al-Fatihah di setiap sholatnya. “Hendaknya setiap orang memperhatikan semua kaidah-kaidah makharijul huruf ini. Wajib hukumnya dalam kadar yang bisa menyebabkan perubahan struktur kalimat dan kerusakan makna. Sunnah hukumnya dalam kadar yang bisa memperbagus pelafalan dan pengucapan ketika membacanya.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 10/179, melalui muslim.or.id)

7. Ikuti Ziayadah Al-Qur’an, Camp Al-Qur’an, dan kegiatan semisalnya. Melalui kegiatan demikian seseorang akan menjadi lebih terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Karena terbiasa, waktu luang yang dimiliki akan diisi dengan kegiatan tilawah, murojaah, atau menghafal Al-Qur’an. Dengan demikian akan sanagt sedikit waktu yang terbuang sia-sia. “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (Q.S. Al Fatir, ayah 29-30)

8. Miliki Al-Qur’an saku. Al Qur’an saku akan sangat membantu untuk memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Meskipun sudah ada fasilitas Al-Qur’an pada telepon seluler, rasa dan keberkahan memiliki Al Qur’an saku tetap berbeda. Ketika membukanya pun, tidak akan ada perasaan was-was untuk membuka media sosial. Para hafidz juga menyarankan untuk memiliki suatu Al-Qur’an pegangan yang tidak berganti-ganti. “Hendaknya seseorang menggunakan satu mushaf saja untuk mempercepat hafalan, juga mengingat ayat terakhir dari suatu halaman dan ayat pertama dari halaman selanjutnya.” (Terjemah bebas dari Penjelasan Syaikh Dr. Al Muhsin bin Muhammad Al Qosim, imam dan khotib Masjid Nabawi pada situs ahlalhdeeth.com)

9. Miliki cita-cita menghafal Al-Qur’an dan segera memulai menghafalnya. Menghafal Al-Qur’an itu berat dan membutuhkan waktu yang lama dan menjaganya membutuhkan tenaga yang ekstra. Cita-cita yang kuat untuk menjadi penghafal Al-Qur’an akan membuat seseorang memiliki jadwal khusus, bahkan mengisi setiap waktu luang di sela-sela kegiatan, untuk berinteraksi dengannya. Seseorang yang telah menghafal Al-Qur’an juga mendapat kelebihan untuk dapat membaca Al-Qur’an hanya menggunakan hafalannya. “Bacalah olehmu semua akan al-Quran itu, sebab al-Quran itu akan datang pada hari kiamat sebagai sesuatu yang dapat memberikan syafaat -yakni pertolongan- kepada orang-orang yang memilikinya – yakni yang membacanya, memahaminya, mengingatnya, dan mengamalkannya.” (Riwayat Muslim)

10. Miliki banyak amal sholeh ringan. Banyaknya variasi amal yang dimiliki seseorang akan membuat orang tersebut terhindar dari kebosanan. Tatkala bosan dari suatu amal, ia dapat memperbanyak amal yang lain. Begitu seterusnya. Memiliki banyak amalan ringan ini juga lebih menjaga seseorang agar dapat istiqomah. Harapannya, setiap kebaikan itu akan mempermudah pelakunya untuk melakukan kebaikan lainnya, hingga waktunya selalu dipenuhi dengan kebaikan. “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Perkataan Para Salaf, Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, melalui rumaysho.com)

11. Ciptakan lingkungan yang baik dan kondusif. Lingkungan yang baik akan mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan dan lingkungan yang kondusif akan membuat pekerjaannya lebih efisien. Termasuk di dalam perkara ini adalah menjauhkan telepon seluler dari jangkauan tangan saat menghafal Al-Qur’an, menyeleksi orang-orang yang dijadikan sahabat, mengikuti diskusi hanya apabila bermanfaat, dan sebagainya. “Sahabat (yaitu lingkungan pergaulan) itu akan menyeret.” (Pepatah arab, melalui ustadzariz.com)

12. Agendakan kegiatan, hingga agenda pengisi waktu luang di sela kegiatan. Untuk memaksimalkan waktu dalam satu hari, seseorang perlu membuat rencana kegiatan yang akan dilakukan selama satu hari. Rencana ini harus disesuaikan juga dengan jadwal tetap harian. Rencana dalam satu hari misalnya jam sekian hingga sekian akan kuliah, kemudian rapat di suatu tempat, dan sebagainya. Jadwal tetap harian misalnya setelah sholat shubuh tilawah, setelah sholat maghrib mendengarkan nasihat, jam sembilan malam tidur, dan sebagainya. Agar lebih maksimal lagi, seseorang perlu mengagendakan pula kegiatan yang akan ia lakukan untuk mengisi waktu luang di sela kegiatan. Kegiatan itu dapat berupa membaca buku, mendengarkan ceramah singkat, atau murojaah hafalan. Intinya sibukkan diri dengan amal kebaikan. “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” (Ibnul Qoyyim, Al Jawabul Kaafi hal 156, Darul Ma’rifah, cetakan pertama, Asy-Syamilah, melalui muslimafiyah.com)

Ditulis oleh kontributor Majeedr, El Foliage

♻ Silakan disebarluaskan
═══ ¤❁✿❁¤ ═══
Follow us !
Facebook : https://facebook.com/majeelisdakwahremaja
LINE : http://line.me/ti/p/%40majeedr (@majeedr)
Instagram : https://instagram.com/majeedr1 (@majeedr1)
Telegram : t.me/majeedrofficial (@majeedrofficial)
Twitter : https://twitter.com/majeedrofficial
Website : www.majeedr.com
Majeedr TV : bit.ly/majeedr

Akun Kemuslimahan Majeedr (Bashira),
BASHIRA
Facebook: facebook.com/letsstudyislam (Bashira)
[email protected]http://line.me/ti/p/%40bashira (@bashira)
Instagram: https://instagram.com/bashiraofficial (@bashiraofficial)
Telegram: t.me/bashiraofficial (@bashiraofficial)

Kunjungi juga Majeedr Store
instagram : https://instagram.com/majeedrstore (@majeedrstore)
web : store.majeedr.com

Mau membantu dakwah dari rumah? yuk berdonasi buat program-program majeedr
Cek https://majeedr.com/info-donasi

Donasi Kamera :
https://majeedr.com/donasi-kamera

Donasi Jilbab :
https://majeedr.com/donasi-jilbab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here