Saat Semua Berpaling – Kisah Ka’ab bin Malik, Radhiyallahu ‘anhu… Part # 7 (Final)

0
687
views

📝 INTISARI KAJIAN
The Rabbaanians “SAAT SEMUA BERPALING part 7 (FINAL)
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, LC
Rabu, 3 Jumadil Akhir 1438H (1 Maret ’17)

Sesaat setelah menunaikan sholat subuh di hari yang ke 50, Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu sedang berada di atap rumahnya meratap kesedihannya atas kehilafannya tidak mengindahkan perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam untuk berperang ke Tabuk. Pun, atap rumahnya menjadi lokasi pilihannya untuk menunaikan sholat subuh karena dadanya yang sudah serasa tertindih gunung, sesak-sumpek akibat tekanan mental yang dialaminya dari dampak hukuman isolasi sosial dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, sahabat, keluarga dan bahkan hampir seisi kota Madinah. Serta merta istrinya bahkan dipulangkan pada hari ke 40.

Dan di saat-saat tersebut, di saat-saat Ka’ab tengah dirundung sempitnya dada di bumi yang demikian luasnya, Ka’ab mendengar teriakan salah satu manusia yang berada di puncak perbukitan Sala’ sehingga memecah keheningan subuh di kota Madinah.

”Wahai Ka’ab bin Malik! Bergembiralah!”

Ternyata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam selepas sholat subuh memberikan pengumuman di hadapan para sahabatnya; bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menerima taubat Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ah al-‘Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi.

Begitu mendengar pengumuman dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, para sahabat sontak langsung berlomba-lomba keluar dan berupaya dengan suka cita menyampaikan berita gembira tersebut kepada Ka’ab, Hilal dan Murarah. Masing-masing dengan kemampuannya; ada yang memiliki kuda, langsung berkuda ke rumah Hilal. Ada yang tidak punya kuda, berlari secepat mungkin ke rumah Murarah. Ada yang kalah cepat dengan yang berlari tidak kehilangan akal, mencari permukaan tinggi lalu berteriak ke arah rumah Ka’ab.

Demikiannya sebuah teladan nan indah dari akhlaq yang dimiliki para sahabat. Karena berita gembira tersebut tak hanya sekadar pengobat rindu para sahabat kepada Ka’ab, Hilal dan Murarah, tapi sekaligus manifestasi persahabatan yang meluncur di atas iman. Karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah bersabda:

”Orang yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati seorang muslim, menghilangkan kesulitannya, melunasi hutangnya, atau mengusir rasa laparnya.” (HR. Thabrani)

Islam menawarkan persahabatan yang sejati. Terwujud ketika semua sahabat langsung berlomba-lomba menyampaikan berita yang menggembirakan kepada Ka’ab, Hilal dan Murarah. Semua melakukannya segenap hati, terlihat masing-masing berupaya maksimal, ada yang berkuda, ada yang berlari bahkan ada yang berteriak sekuat tenaga dari bukit Sala’.

Pun sejurus setelah mendengar jelas kabar tersebut, Ka’ab langsung bersimpuh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagai wujud rasa syukur atas berita telah diampuninya dosa-dosa dirinya dengan spontan sujud syukur kepada Allah Jalla Jalaluhu.

Sujud syukur. Karena taubat diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah sebuah anugerah. Sebuah pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala itu adalah sebuah nikmat. Sujud syukur, inilah penyikapan yang paling baik.

Gembira dan campur aduk rasa berkembang di dada Ka’ab. Semula sempit dada yang dirasanya menguap dan mengembang tuntas melapangkan perasaan Ka’ab. Begitu gembiranya mendengar suara sahabatnya dari bukit Sala’, sampai-sampai ketika sang pemilik suara tersebut sudah datang menghampiri dirinya, Ka’ab serta merta langsung memberikan hadiah kepadanya dengan baju terbaik yang dimiliki satu-satunya yang dikenakannya kepada sahabatnya dengan suka cita.

Kembali kita dapat mengintisarikan kaidah persahabatan di sekeliling Rasulullah Shallallahu’alalihi wa Sallam. Memberikan kabar gembira adalah bukti cinta, bukti sayang dan bukti perhatian. Serta merta memberikan kabar gembira adalah suatu kebaikan. Pun Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengajarkan kita untuk membalas kebaikan, sebagaimana yang dilakukan oleh Ka’ab kepada sahabatnya:

وَمَنْ أَتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

“Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada kalian maka balaslah (kebaikannya) dengan kebaikan yang setimpal dan jika kalian tidak mendapat sesuatu untuk membalasnya kebaikannya maka berdo’alah untuknya sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Ahmad)

Setelah memberikan hadiah baju yang dikenakan kepada sahabatnya, Ka’ab bergegas menuju Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Di dalam perjalanannya Ka’ab telah ditunggu sahabat-sahabatnya yang lain. Gerombol demi gerombol sahabatnya yang ikut berbahagia memberikan selamat kepada Ka’ab. Dirinya disambut dengan suka cita, para sahabatnya mengucapkan:

“Semoga gembiralah hatimu kerana Allah telah menerima taubatmu itu.”

Dapatlah kiranya kita dapat meneladani momentum di atas pada lingkungan pergaulan kita maupun di keluarga. Dimana memberikan selamat kepada saudara kita yang baru saja bertaubat adalah sunnah. Memberikan selamat kepada saudari kita yang baru saja komitmen mengenakan jilbab, adalah sunnah.

Demikian akhirnya Ka’ab memasuki mesjid, dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sedang duduk dikelilingi sahabatnya yang lain. Sontak Thalhah bin Ubaidullah RadhiAllahu’anhu segera berdiri cepat-cepat dan menyambut Ka’ab dengan menjabat tangannya kemudian menyatakan kegembiraannya kepada Ka’ab.

Ka’ab begitu tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh Thalhah bin Ubaidullah RadhiAllahu’anhu, pasalnya perilaku spesial dari Thalhah diterimanya yang pada saat itu tidak ada dari golongan kaum Muhajirin yang berdiri selain Thalhah. Oleh sebab itu Ka’ab tidak akan melupakan peristiwa itu untuk Thalhah. Karena memang yang dilakukan Thalhah adalah suatu sunnah yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam.

Wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam berseri-seri gembira menyambut Ka’ab setelah mengucapkan salam. Lalu berkata:

“Bergembiralah dengan datangnya suatu hari terbaik yang pernah engkau alami sejak engkau dilahirkan oleh ibumu, wahai Ka’ab.”

Makna ucapan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada Ka’ab sesungguhnya sarat makna yang tersirat; Pasalnya, hari terbaik kita adalah pada saat kita bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari terbaik dalam hidup kita adalah setelah keimanan kita ‘hijrah’ kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari terbaik kita adalah hari pertama kita solat, solat yang benar, bukan karena ikut-ikutan. Hari terbaik kita adalah hari kita kembali berpuasa Ramadhan setelah bertahun-tahun Ramadhan kita tinggalkan.

Hari terbaik bukanlah ketika hari jadian. Hari terbaik bukanlah momentum anniversary. Hari terbaik bukanlah ketika kita diterima kerja. Tidak ada hari terbaik dari itu semua, kecuali hari terbaik adalah pada saat kita kembali kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan jangan sampai kita mencampakkan nikmat hari terbaik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berikan kepada kita. Jangan sampai kita menjadi kufur nikmat dari hidayah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan. Na’udzubillah.

Perjumpaan Ka’ab dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengalir sebuah pertanyaan dari Ka’ab.

“Pemboikotan saya berakhir, apakah itu datangnya dari Anda sendiri ya Rasulullah, ataukah dari sisi Allah?”

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab:
“Tidak dari aku sendiri, tetapi memang dari Allah ‘Azzawajalla”.

Mendengarnya, kontan hati Ka’ab bergembira. Pasalnya, sekalipun Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, berkata dari dirinya, hati Ka’ab belum dapat tenang. Karena pasalnya yang dicari paling utama oleh Ka’ab adalah ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ka’ab tidak akan puas jika hanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam yang meridhoi.

Setelah Ka’ab mengambil posisi duduk berhadap-hadapan dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Ka’ab berkata:

“Ya Rasulullah, sesungguhnya untuk menyatakan taubatku itu ialah saya hendak melepaskan sebagian hartaku sebagai sedekah kepada Allah dan RasulNya.”

Inilah sunnah yang diajarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika kita bertaubat, maka bersegeralah untuk menyedekahkan sebagian hartanya.

“Tahanlah untukmu sendiri sebagian dari harta-hartamu itu, sebab yang sedemikian itu adalah lebih baik.” Saya menjawab: “Sebenarnya saya telah menahan bagianku yang ada di tanah Khaibar.”

Momentum Ka’ab pada hari itu esensiya diakibatkan oleh manuver berani kejujuran yang dilakukan Ka’ab ketika mengutarakan uzur ketidaksertaan pada perang Tabuk. Hingga-hingga Ka’ab berkomitmen tidak akan berdusta di sisa usianya.

“Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan diriku dengan jalan berkata benar, maka sebagai tanda taubatku pula ialah bahwa saya tidak akan berkata kecuali yang sebenarnya saja selama kehidupanku yang masih tertinggal. Demi Allah, belum pernah saya melihat seseorangpun dari kalangan kaum Muslimin yang diberi cobaan oleh Allah Ta’ala dengan sebab kebenaran kata-kata yang diucapkan, sejak saya menyebutkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam yang jadinya lebih baik dari yang telah dicobakan oleh Allah Ta’ala pada diriku sendiri. Demi Allah, saya tidak bermaksud akan berdusta sedikitpun sejak saya mengatakan itu kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sampai pada hariku ini dan sesungguhnya sayapun mengharapkan agar Allah Ta’ala senantiasa melindungi diriku dari kedustaan itu dalam kehidupan yang masih tertinggal untukku.”

Demikannya Ka’ab menyadari betul bagaimana pentingnya sabar dalam menjalani ujian. Karena dengan cara sabar & istiqomah berdoa solusi terlihat.

Tak luput ujian yang Ka’ab alami pada 50 hari pengucilan adalah agar Ka’ab berputus asa kepada makhluk dan hanya menaruh satu-satunya pengharapan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian kisah Ka’ab bin Malik RadhiAllahu’anhu, mudah-mudahan terbetik banyak ibroh yang dapat menjadikan kita orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara totalitas dan tak menaruh harapan apa-apa lagi ke makhluk Allah Azza wa Jalla kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kajian Oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى
video : Saat Semua Berpaling … part 05

Sumber Fanpage The Rabbaanians : https://www.facebook.com/therabbaanians/photos/a.1433546910282441.1073741828.1433458263624639/1639544053016058/?type=3&theater

Sebelumnya :
Baca Part 6 : SAAT SEMUA BERPALING – KISAH KA’AB BIN MALIK, RODHIYALLAHU ‘ANHU… PART # 6

♻ Silakan disebarluaskan
═══ ¤❁✿❁¤ ═══
Follow us !
Facebook : https://facebook.com/majeelisdakwahremaja
LINE : http://line.me/ti/p/%40majeedr (@majeedr)
Instagram : https://instagram.com/majeedr1 (@majeedr1)
Telegram : t.me/majeedrofficial (@majeedrofficial)
Twitter : https://twitter.com/majeedrofficial
Website : www.majeedr.com
Majeedr TV : bit.ly/majeedr

Akun Kemuslimahan Majeedr (Bashira),
BASHIRA
Facebook: facebook.com/letsstudyislam (Bashira)
[email protected]http://line.me/ti/p/%40bashira (@bashira)
Instagram: https://instagram.com/bashiraofficial (@bashiraofficial)
Telegram: t.me/bashiraofficial (@bashiraofficial)

Kunjungi juga Majeedr Store
instagram : https://instagram.com/majeedrstore (@majeedrstore)
web : store.majeedr.com

Mau membantu dakwah dari rumah? yuk berdonasi buat program-program majeedr
Cek https://majeedr.com/info-donasi

Donasi Kamera :
https://majeedr.com/donasi-kamera

Donasi Jilbab :
https://majeedr.com/donasi-jilbab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here