إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرورأنفسنا وسيّعات أعمالنا من يهده الله فلا مضلّ له ومن يضلل فلا هادي له وأشهدأن لا إله إلاّ الله وأشهد انّ نبيّنا محمدًا عبده و رسوله، صلى الله عليه وعلى اَله وأصحابه ومن تبعهم بإحسانٍ اِلى يوم الدّينِ

Masa remaja kerap dikatakan sebagai sebuah masa untuk mencari jati diri. Hal ini tentu bisa dibenarkan jika melihat fakta yang ada di masyarakat. Pada masa-masa ini seseorang berada dalam masa peralihan antara remaja dan dewasa yang tentunya membutuhkan banyak bekal. Namun sering kita dapati para remaja tidak mempedulikan perkara ini, sehingga banyak remaja zaman sekarang yang tidak mengerti bahkan tidak mau mengerti hakikat kehidupan di dunia, untuk apa mereka diciptakan, bahkan untuk apa mereka beragama pun masih belum disadari penuh.

Maka dari itu perlu adanya sebuah tindakan nyata dari banyak pihak agar semakin banyak remaja yang bergabung dengan barisan kaum muslimin yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan Manhaj Salaful Ummah.

Sesungguhnya islam telah menaruh harapan besar kepada para pemuda, dan demikianlah Islam telah menggambarkan sifat pemuda dambaan Ummat, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an dan diriwayatkan dari lisan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, diantaranya adalah sabdanya:
« رَبِّهِ عِبَادَةِفِى نَشَأَ وَشَابٌّ … ظِلُّهُ إِلاَّ ظِلَّ لاَ يَوْمَ ظِلِّهِ فِى اللَّهُ يُظِلُّهُمُ سَبْعَةٌ »
“Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya: …Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah …”
HR al-Bukhari (no. 1357) dan Muslim (no. 1031).
Imam Abul ‘Ula al-Mubarakfuri berkata:
“(Dalam hadits ini) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhusukan penyebutan “seorang pemuda” karena usia muda adalah masa yang berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat, disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya nilai ketakwaan dalam diri orang tersebut”.
Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« صَبْوَةٌ لَهُ لَيْسَتْ بِّ الشَّا مِنَ لَيَعْجَبُ وَجَلَّ عَزَّ اللَّهَ إِنَّ »
“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah” Artinya: pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. HR Ahmad (2/263), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabir” (17/309) dan lain-lain, dinyatakan shahih dengan berbagai jalurnya oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 2843).

Dan telah bertebaran teladan indah dari para pemuda salaf. Merekalah mutiara-mutiara muda pada zamannya dan qudwah bagi generasi sesudahnya. Inilah Ali bin Abi Tholib, penghulu pemuda islam nan gagah perkasa di medan perang. Disana ada Ibn Abbas, sang lautan ilmu. Tercatat pula Syafii bin idris, sang mufti muda islam, pemberi fatwa pada usia 20 tahun. Merekalah pemuda yang telah melukiskan kemuliaan dirinya, atas keteguhan mereka di atas agama.

Melihat kemuliaan pemuda-pemuda sunnah di atas, yang sudah jarang kita saksikan di zaman sekarang, alhamdulillah, Majeed Reporters berusaha turut ambil dalam usaha dakwah yang mulia ini. Dengan berbagai program yang kami buat, kami ingin mengenalkan para pemuda dengan sunnah, akrab dengan ‘ilmu-dien, dan mendekatkan mereka kepada Ulama’.

Untuk mencapai tujuan dakwah yang mulia ini, kami banyak mengambil bimbingan dan nasihat dari asaatidzaat di Yogyakarta dan sekitarnya. Diantara mereka adalah Ustadzuna Afifi Abdul Wadud, Ustadz Ahmad MZ, Ustadz Ari Wahyudi, Ustadz Amir Soronji, Ustadz Yahya Al-Lijazi dan ustadz-ustadz lainnya –hafidzahumullaahu ajma’in- yang tidak dapat kami tuliskan satu persatu.

Organisasi ini -dengan izin Allah- didirikan pada awal tahun 2012 oleh beberapa pelajar SMA di Kota Yogyakarta, melihat mendesaknya musyarokatud-dakwah kepada para pemuda. Dalam perkembangannya, kami berusaha mendesain dan mengadakan berbagai program yang kami tujukan secara khusus untuk para pelajar (SMP, SMA, dan mahasiswa baru) di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Harapannya –dan kami berdoa kepada Allah- dakwah sunnah untuk pelajar ini dapat tersebar ke wilayah lainnya di Indonesia, baik melalui wadah majeedr, maupun melalui wadah lainnya.

Diantara program kami adalah usaha membuat kajian-kajian sunnah dengan target para pemuda dalam berbagai kemasan, mulai dari kajian rutin, kajian bulanan, pesantren kilat, dauroh, hingga kursus-kursus bahasa arab. Disisi lain, kami berusaha menggarap website dan media online lainnya, diantaranya di dalam website majeedr.com dan melalui fanpage facebook kami (Majeed Reporters Dawah). Kedepannya kami berencana membuat ma’had khusus pelajar, wallmagz, dan mengembangkan berbagai media dakwah lainnya, insya Allah.

Kami menyadari program-program yang kami susun di atas, dan dengan sumber daya yang kami miliki, tidak akan mencukupi dan menghilangkan dahaga pemuda ummat ini akan islam. Meskipun demikian, dan inilah program utama kami; kami berharap dengan langkah kecil yang kami lakukan ini, akan muncul wadah-wadah dakwah pemuda lainnya, dengan berbagai program dan variasinya, di seluruh Indonesia, untuk bersama-sama berdakwah, menyeru para pemuda islam kepada Al-Qur’an dan Sunnah, di atas manhaj salaful ummah.
Disamping itu kami mengajak muslimin seluruhnya untuk berpartisipasi dan berlomba-lomba menanam saham dakwah nan indah ini, sesuai kemampuan yang kita miliki, ikhlas semata mengharap ridho-Nya.

Demikian risalah ini kami sampaikan, semoga Allah senantiasa meneguhkan kita di atas kecintaan dan keridhoanNya, dan semoga Allah mengumpulkan kita di surgaNya, untuk melihat wajah-Nya.

صْحَابِهِ أَ وَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِهِ صَلِّ وَ الحمد

4 thoughts on “Tentang Majeedr

  • February 25, 2014 at 3:56 pm
    Permalink

    http://www.islampos.com/dialog-panjang-syeikh-said-ramadhan-al-buthi-syeikh-al-albani-49256/

    bagaimana mungkin Ahli Hadits kebingungan ketika ditanya oleh yg bukan Ahli Hadits yg tidak pernah diagungkan namanya (orang biasa) hmmm…. aneh !

    sebagaimana kata Rasulullah siapa yg mengambil Qur’an hanya menurut Zahir dan akalnya saja maka dia telah memeasan tempatnya di neraka !

    untuk itu jangan menyimpulkan makna ayat/hadis hanya menurut mata/tulisan zahirnya saja 😉

    Reply
    • March 15, 2014 at 1:28 am
      Permalink

      seorang ulama bisa saja bingung atau tidak tahu dengan suatu permasalahan, bahkan Imam Malik itu sering sekali menjawab pertanyaan dengan “saya tidak tahu”, apakah hanya karena itu kita katakan Imam Malik tidak layak jadi Imam Madzhab? tentu saja tidak bukan, afwan sebelumnya

      “sebagaimana kata Rasulullah siapa yg mengambil Qur’an hanya menurut Zahir dan akalnya saja maka dia telah memeasan tempatnya di neraka !” –> bisa ditunjukkan haditsnya?

      Reply
  • April 22, 2014 at 8:33 am
    Permalink

    posternya bagus… kayak deja vu deh

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *