Bagaimana Cara Menjauhkan Rasa Gelisah dan Sedih?

0
373
views

Al Allamah As Sa’di menuturkan, cara menjauhkan diri dari rasa sedih dan gelisah, adalah dengan memfokuskan pikiran dan raga pada aktivitas masa ini. Berhenti dari berlarut-larut membayangkan masa depan, ataupun mengorek kenangan sedih masa lalu.

Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah ﷻ dari rasa sedih dan gelisah. Berlarut dalam kesedihan di masa lalu, tidak ada manfaatnya sama sekali karena jarum jam tidak akan berputar ke belakang dan mengulangi kejadian tersebut. Yang ada justru menimbulkan rasa khawatir akan masa depan.

Oleh karena itu, jadilah Ibnul Yaum, para pelaku hari ini. Kumpulkan semua semangat untuk memperbaiki hari-hari yang telah berlalu dan yang tengah dijalani. Jika hati dan pikiran telah focus terhadap hari-hari yang tengah dijalani, maka dia bisa menyempurnakan setiap pekerjaan yang dilakukan. Sehingga, tidak mungkin rasa sedih dan gelisah datang menghampiri.

Setiap kali Rasulullah ﷺ berdoa atau menganjurkan umatnya berdoa, pasti beliau menyuruh umatnya untuk meminta pertolongan Allah ﷻ dan bersungguh-sungguh dalam melabuhkan doa, agar Allah ﷻ memperkenankan doa mereka.

Jika seseorang ingin melabuhkan doa perlindungan, beliau juga menganjurkan umatnya untuk menjauhi sebab-sebab terjadinya perkara yang tidak diinginkan itu karena doa merupakan kawan karib sebuah amalan, maka beliau menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh dalam melabuhkan doa baik yang berkaitan dengan perkara dunia, terlebih akhirat. Kemudian meminta kepada Allah ﷻ agar apa yang diinginkannya tercapai dengan sempurna, serta meminta tolong kepada-Nya.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
“Semangatlah dalam (menekuni) urusan yang dapat mendatangkan manfaat untukmu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu ditimpa sesuatu (yang tidak sesuai dengan harapan), maka jangan sekali-kali mengucapkan ‘Sekiranya aku mengerjakan ini dan itu, tentu aku akan begini dan begitu.’ Akan tetapi ucapkanlah, ‘Allah telah menetapkan (hal itu kepadaku). Apa yang Dia kehendaki, pasti terjadi.’ Karena ucapan ‘sekiranya’ (terhadap perkara yang sudah terjadi) hanya akan membuka peluang setan (mengembuskan bisikan buruk).”

Beliau menyatukan urusan menekuni hal-hal yang dapat mendatangkan manfaat dengan meminta pertolongan kepada Allah dan tidak berlaku lemah karena sikap lemah hanya akan memunculkan rasa malas dan itu membahayakan sikap pasrah kepada Allah atas perkara yang telah terjadi, juga keyakinan atas qadha’ dan qadar Allah ﷻ.

Setiap urusan yang akan kita kerjakan, tak ubahnya dua mata koin yang saling memiliki keterkaitan. Satu sisi dapat diusahakan seorang hamba, seperti bersegera dalam menggapai yang diinginkan atau menjauhi yang dihindari, kemudian meminta tolong dan perlindungan kepada Allah ﷻ. Satu sisi lagi, tidak mungkin diusahakan seorang hamba. Yang ada hanya menampilkan sikap ridha dan berserah diri. Jika demikian, tentu tidak diragukan lagi bahwa hal itu menjadi sebab munculnya rasa bahagia dan terjauh dari rasa risau juga gelisah.

Dalam kitab Al-Wasaa’il Al-Mufidah Lil Hayaat As-Sa’idah disebutkan,
“Di antara sebab yang dapat memunculkan rasa bahagia dan terjauh dari rasa risau dan gelisah ialah dengan bersegera menghapus berbagai macam pikiran yang dapat menyebabkan kegelisahan, lalu menampilkan perkara-perkara yang dapat mengundang kebahagiaan. Salah satunya, dengan menghapus memori sedih di masa lalu karena tidak mungkin mengulang kembali kejadian tersebut.

Dia juga harus paham, jika terus berlarut-larut dalam kesedihan, tak ada bedanya antara dirinya dengan orang pandir yang stress. Dia harus berusaha keras melawan sisi lain yang ada dalam hatinya. Selain itu, dia juga tidak perlu was-was dan terjerumus dalam kubangan kekhawatiran tentang masa depan. Dia harus tahu, bahwa tidak ada satupun makhluk Allah yang mengetahui masa depan dirinya. Apakah ia akan berbahagia, sedih, sehat, ataupun sakit. Dia harus menyandarkan semuanya kepada Allah ﷻ, bukan kepada makhluk.

Tidak ada kaitannya dengan sesama makhluk, kecuali untuk membantunya menggapai setiap kebaikan dan manfaat yang ada, ataupun mencegah keburukan semampunya. Jika seorang hamba berhasil mengalihkan kegelisahan dalam pikirannya tentang masa depan dan menitipkannya kepada Allah ﷻ agar dikembalikan dalam wujud terbaik, lalu merasa tenang dengan semua itu, maka hatinya akan menjadi tentram dan terjauh dari perasaan risau dan gelisah.

Sumber : catatan kaki kitab Ar Rahiqul Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri rahimahullah

♻ Silakan disebarluaskan
═══ ¤❁✿❁¤ ═══
Follow us !
Facebook : https://facebook.com/majeelisdakwahremaja
LINE : http://line.me/ti/p/%40majeedr (@majeedr)
Instagram : https://instagram.com/majeedr1 (@majeedr1)
Telegram : t.me/majeedrofficial (@majeedrofficial)
Twitter : https://twitter.com/majeedrofficial
Website : www.majeedr.com
Majeedr TV : bit.ly/majeedr

Akun Kemuslimahan Majeedr (Bashira),
BASHIRA
Facebook: facebook.com/letsstudyislam (Bashira)
[email protected]http://line.me/ti/p/%40bashira (@bashira)
Instagram: https://instagram.com/bashiraofficial (@bashiraofficial)
Telegram: t.me/bashiraofficial (@bashiraofficial)

Kunjungi juga Majeedr Store
instagram : https://instagram.com/majeedrstore (@majeedrstore)
web : store.majeedr.com

Mau membantu dakwah dari rumah? yuk berdonasi buat program-program majeedr
Cek https://majeedr.com/info-donasi

Donasi Kamera :
https://majeedr.com/donasi-kamera

Donasi Jilbab :
https://majeedr.com/donasi-jilbab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here