Buletin Muslim Pelajar edisi 3 : Sebaik-Baik Amal Shalih

0
663
views

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Ta’ala yang selalu memberikan banyak nikmat kepada kita. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam.

Tidaklah kita akan masuk surga kecuali dengan rahmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala. Amalan kita rendah, sedangkan surga begitu mulia, ia terlalu mahal apabila kita tukar dengan seluruh amalan kita. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku akan tetapi aku senantiasa dicurahi keutamaan dan rahmat oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari sini sudah tampak, wajibnya kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala bagaimanapun kondisi kita di dunia ini. Allah telah memberi kebaikan dan kemuliaan kepada kita, akankah kita tetap kufur akan nikmat Allah? Bahkan Allah pun memberi kita berbagai nikmat di dunia ini pula serta balasan yang sangat luar biasa indah dan nikmat di akhirat kelak. Allah Ta’ala berfirman di dalam Surat Ar-Rahman “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tahukah engkau, apa hakikat tujuan kita sebenarnya hidup ini? Sungguh merugi ketika kita tersesat, lebih-lebih lagi tak mau tau apa tujuan kita hidup dan diciptakan. Dalam suatu ayat yang agung Allah Ta’ala berfirman “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Bila kita renungi ayat ini, bisa kah kau tahan linangan air matamu? Sudah sekelas apa ibadah dan ketauhidan yang kita persembahkan kepada Allah? Renungilah wahai saudaraku. Para ulama pakar ilmu tafsir Al-Qur’an menjelaskan bahwa maksud dari bunyi ayat “agar mereka beribadah kepada-Ku” adalah agar mereka mentauhidkan Aku; karena tauhid dan ibadah itu adalah sama (tidak terpisahkan) [1]. Ya akhi, ya ukhti, Sudah sepantasnya bahkan wajib bagi kita untuk selalu bertaqwa kepada Allah, terutama dalam hal tauhid dan menjauhi syirik sekecil apapun. Tujuan penciptaan manusia hanya itu, Penyembahan kepada Allah”.

Allah Ta’ala juga berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (QS. An-Nisaa: 36) Jelas sekali di dalam surat An-Nisaa ini Allah menggabungkan kalimat penyembahan dengan larangan berbuat syirik. Hal ini menunjukkan bahwa tauhid memiliki unsur utama menyembah hanya kepada Allah dan tidak melakukan kesyirikan sekecil apapun. Tidak ada sekecil apapun ibadah dan penyembahan yang ditujukan kepada selain Allah.

Lantas, setelah mengetahui hakikat hidup, apa yang kan engkau perbuat? Mungkin sebagian orang akan beranggapan, “Ketauhidan itu kan seperti syahadat saja, ya saya sudah hafal isi syahadat, hafal versi Bahasa Arab maupun Bahasa Indonesia. Ya saya berarti sudah bertauhid dan aman dari berbagai perbuatan syirik”.

Tak malu kah kita kepada sesosok Nabi mulia, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ? Di dalam Al-Qur’an, Allah abadikan doa mulia Nabi Ibrahim, “Dan tatkala Ibrahim berkata ‘Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini menjadi negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan terhadap berhala-berhala” (QS. Ibrahim: 35). Kemudian juga, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun tidak luput dari memohon perlindungan kepada Allah, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukanmu dalam keadaan aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak aku katahui” (HR.Ahmad, Shahih oleh Syaikh Al-Albani) Selevel Nabi pun tetap memohon kepada Allah untuk berlindung dari kesyirikan. Apalah kita bila dibandingkan Nabi, dengan demikian maka lebih layak lagi bagi kita untuk senantiasa memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari buruknya kesyirikan.

Tauhid tak hanya sekedar ucapan syahadat secara lisan, akan tetapi wajib disertai mempelajari makna yang terkandung didalamnya. Hal ini merupakan kebutuhan mendasar dalam kita beragama. Sebagaimana yang kita tahu bahwa rukun islam pertama adalah bersyahadat, itu menunjukkan bahwa Tauhid adalah perkara penting yang harus kita pahami.

Dengan mengetahui urgensi tauhid, sudah sepantasnya kita termotivasi untuk serius memulai belajar tauhid. Tak takutkah engkau jika ternyata selama ini masih jauh dari tauhid yang sempurna? Atau bisa jadi selama ini secara tidak sadar justru kita banyak melakukan perbuatan kesyirikan? Naudzubillaahi min dzalik.

Yang sudah memulai belajar ilmu tauhid sejak kemarin, alhamdulillah, lanjutkan perjuangan tersebut, pelajari terus dengan kesungguhan dan kerja keras, semoga Allah mempermudah dan memberkahimu jalanmu. Aamiin. Yang belum memulai, alhamdulillah sekarang menjadi sadar betapa pentingnya tauhid untuk dipelajari. Segeralah mulai langkah mulia itu, semoga Allah mempermudah dan memberkahimu. Aamiin.

Ada banyak cara untuk belajar ilmu agama. Teknologi saat ini juga sudah sangat berkembang, kita bisa memanfaatkan rekaman dan video kajian-kajian untuk belajar. Namun, cara yang paling recommended ketika masih di awal-awal belajar adalah dengan mendatangi majelis ilmu. Datangilah majelis ilmu atau kajian-kajian. Banyak keberkahan dan kebaikan yang akan engkau peroleh di sana. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim). Ketenangan akan terwujud, rahmat akan kau peroleh dan doa para malaikat yang mustajab/terkabul kan kau dapat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata dalam kitab beliau Syarh Ushulil Iman, “Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui, dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah subhanahu wa ta’ala, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya.”

Sebagai penutup, renungilah, Allah ta’ala berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-Ashr: 1-3). Cukuplah 3 ayat surat Al-Ashr ini bukti bahwa kebahagiaan ada pada orang-orang yang beriman dan senantiasa mengerjakan amal shalih. Jangan kita sia-siakan kesempatan di dunia ini dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Segera lakukan dan sempurnakan amal shalih kita. Dan sebaik-baik amal shalih adalah bertauhid kepada Allah ta’ala.

“Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah”

Selamat menyempurnakan tauhid !

 

Ditulis oleh Akh Syaifullah Rangga Haryo Nugroho, S.T.

Alumnus SMA Negeri 1 Yogyakarta dan Alumnus Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, Semoga Allah berkahi dan ampuni dirinya dan keluarganya.

_______________________________________________

[1] I’anatul mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid, 1/33, Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan Hafidzahullah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here