Buletin Muslim Pelajar edisi 6 : Yuk, Kenali Mahrom Kita

0
108
views

YUK, KENALI MAHROM KITA

Definisi

Mahrom (مَحْرَم) berasal dari kata (حرم) yang artinya melarang. Dalam ilmu fiqih, mahrom berarti perempuan yang tidak boleh dinikahi oleh seorang lelaki. Dalam pembahasan ini, mahrom dibagi menjadi dua yaitu mahrom muabbad (tidak boleh dinikahi selamanya) dan mahrom muaqqot (tidak boleh dinikahi selama kondisi tertentu saja, sehingga apabila kondisi tersebut hilang maka menjadi halal). Selain itu, pernikahan sesama jenis juga haram hukumnya, meskipun sesama jenis tidak masuk dalam pembahasan mahrom muabbad maupun mahrom muaqqot.

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina.” (QS. An Nisa’: 22-24)

Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudara lelaki mereka atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka.” (QS. An Nur: 31)

 

Beberapa Fiqih Berkenaan dengan Mahrom

            Terdapat berbagai hukum fiqih selain pernikahan yang berkenaan dengan mahrom. Beberapa diantaranya adalah larangan berduaan dengan selain mahromnya, bersentuhan dengan selain mahromnya, bersafar bagi perempuan kecuali ditemani mahromnya. Sebagai catatan, mahrom yang dimaksud dalam ketiga poin di atas adalah mahrom muabbad. Artinya, mahrom muaqqot tidak bisa menjadi teman bersafar seorang perempuan. Termasuk juga, sesama perempuan tidak bisa menjadi mahrom bagi perempuan lainnya dalam safar.

 

Mahrom Muabbad

Mahram muabbad adalah s​emua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya karena sebab keturunan (nasab), pernikahan (mushoharoh), atau persusuan (rodho’ah) (Ibnu Qudamah al-Maqdisi dalam al-Mughni 6/555). Untuk poin mahrom karena sebab persusuan, syarat seseorang menjadi mahram karena persusuan menurut Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam Durus wa Fatawal Haramul Makki Syaikh Utsaimin, juz 3 hal. 20, yaitu (1) telah terjadinya proses penyusuan selcama lima kali dan (2) penyusuan terjadi selama masa bayi menyusui yaitu dua tahun sejak kelahirannya (artinya, seorang yang telah dewasa tidak dapat menjadi mahram persusuan disebabkan minumnya air susu ibu ketika sudah dewasa).

`Aisyah radhiyallahu `anha, beliau berkata, “Termasuk yang di turunkan dalam Al Qur’an bahwa sepuluh kali persusuan dapat mengharamkan (pernikahan) kemudian dihapus dengan lima kali persusuan.” (HR. Muslim 2/1075/1452).

  1. Mahrom karena sebab keturunan
    • Orang tua kandung, termasuk di dalamnya adalah orang tua mereka ke atas
    • Anak kandung, termasuk di dalamnya adalah cucu dan keturunan mereka ke bawah (Anak suami/istri, baik dari poligami maupun pernikahan sebelumnya juga adalah mahrom. Lihat: mahram karena pernikahan)
    • Saudara kandung, baik hanya sebapak atau hanya seibu saja
    • Keponakan, yaitu keturunan dari saudara kandung, termasuk di dalamnya adalah keturunan mereka ke bawah
    • Saudara kandung orang tua, termasuk di dalamnya saudara kandung kakek, dan seterusnya ke atas. (Akan tetapi, pasangan mereka bukanlah mahrom muabbad. Lihat: Mengenal siapa bukan mahrom kita)
  2. Mahrom karena sebab persusuan
    • Orang tua susu, yaitu meliputi ibu susu, suami ibu susu, dan kedua orang tua mereka
    • Saudara dari orang tua susu
    • Anak kandung ibu susu (saudara sepersusuan)
    • Anak dari anak kandung ibu susu (keponakan sepersusuan)
    • Anak kandung dari suami ibu susu (meskipun bukan anak ibu susu)
    • Istri lain dari suami ibu susu
  3. Mahrom karena sebab pernikahan
    • Mertua (orang tua pasangan), termasuk di dalamnya orang tua mereka (kakek atau nenek pasangan)
    • Pasangan dari orang tua yang tidak termasuk orang tua kandung (ibu atau ayah tiri)
    • Anak tiri (anak dari pasangan), termasuk di dalamnya cucu tiri. Status ini menjadi mahrom jika sudah bersetubuh dengan pasangan. Adapun jika sebatas akad, maka anak tiri dan cucu tiri tidak menjadi mahrom.
    • Menantu (pasangan dari anak, termasuk di dalamnya adalah pasangan anak persusuan)

 

Mahrom Muaqqad

Mahrom muaqqad adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama kondisi tertentu saja, sehingga apabila kondisi tersebut hilang maka menjadi halal. Penyebab halalnya ada beberapa seperti meninggalnya pasangan, cerai dengan pasangan, dan lain-lain, tergantung konteksnya.

  1. Saudara pasangan (ipar)

“… (dan diharamkan bagi kamu) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara ….” (QS. An Nisa’: 23)

  1. Paman atau bibi dari pasangan (saudara dari mertua)

Tidak boleh seorang wanita dimadu dengan bibi (dari ayah atau ibu) -nya.” (HR. Muslim no. 1408)

  1. Wanita yang bersuami, yang suaminya muslim (karena keislaman seorang wanita yang masuk islam dan suaminya masih belum berislam sekaligus membuat ia terpisah dari suaminya, lihat: Q.S. Al-Mumtahanah 10).

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu.” (QS. An Nisa’: 24)

  1. Wanita yang telah ditalak tiga, hingga ia telah menikah dan cerai dengan lelaki lain.

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (QS. Al Baqarah: 230)

  1. Wanita yang tidak beragama Islam, kecuali beragama ahli kitab (lihat: Q.S. Al-Maidah: 5). Adapun wanita, tidak boleh menikahi lelaki yang tidak bergama Islam, meskipun sang lelaki beragama ahli kitab (lihat: Q.S. Al-Mumtahanah: 10).

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al Baqarah: 221)

  1. Wanita pezina, kecuali apabila ia telah bertaubat dan membuktikan kosong rahimnya dengan satu kali haidh atau satu kelahiran

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin” (QS. An Nur: 3)

  1. Wanita yang sedang ihrom sampai ia tahallul.

Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.” (HR. Muslim no. 1409, dari ‘Utsman bin ‘Affan)

  1. Tidak boleh menikahi wanita kelima selama masih memiliki empat istri.

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat” (QS. An Nisa’: 3)

 

Catatan Tambahan

Tidak boleh seseorang menikahi wanita yang sedang hamil, meskipun itu anak yang dikandung tersebut adalah anak sang lelaki.

Wanita hamil tidaklah disetubuhi (dinikahi) hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.” (HR. Abu Daud no. 2157. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

 

Mengenal Siapa Bukan Mahrom Kita

Sebagian dari kita terkadang mengalami kebingungan mengenai siapa saja yang tidak termasuk menjadi mahram kita. Salah satu penyebab utama kebingungan ini adalah kelumrahan yang ada pada masyarakat Padahal, tidak semua yang keadaannya tidak boleh dinikahi adalah mahram muabbad bagi kita. Berikut beberapa kesalahpahaman mengenai mahram.

  1. Saudara ipar, merupakan mahram sementara (mahram muaqqat). Selama menjadi mahram sementara, hukum yang berlaku di antara keduanya adalah bukan mahram
  2. Pasangan dari saudara orang tua bukanlah mahram muabbad. Yang menjadi mahram muabbad hanya saudara dari orang tua, tidak sampai pasangannya, apalagi anak-anak meraka. Oleh karena itu, sepupu juga bukan mahrom muabbad, sehingga halal dinikahi.
  3. Anak angkat bukanlah mahrom muabbad. Salah satu jalur yang bisa ditempuh agar anak angkat menjadi mahrom muabbad adalah dengan menikahi ibunya atau dengan meminta istri menyusuinya. Hukum pengangkatan anak telah dihapuskan dalam Islam sehingga seseorang tidak dapat mengangkat anak kemudian dinasabkan kepada dirinya.
    “Dan Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan dia menunjukkan jalan (yang benar).”​ (Qs. Al-Ahzab: 4)
  4. Saudara tiri yang tidak sebapak maupun tidak seibu bukan mahrom muabbad bagi kita, meskipun saudara tiri tersebut adalah mahram bagi orang tua kandung kita. Perlu dibedakan juga bahwa saudara sebapak atau saudara seibu adalah mahram muabbad (meskipun dalam KBBI hubungan seperti ini disebut saudara tiri, yang dimaksud tiri dalam Islam adalah yang tidak sebapak dan tidak seibu).
  5. Mahram titipan bukanlah mahram sama sekali. Mahram titipan ini biasa ditemui dalam kegiatan travel haji dan umroh. Mahram titipan ini semata-mata hanya untuk mengelabui petugas saja dan sejatinya tidak bisa menjadi teman safar, apalagi bersentuhan.
  6. Sesama jenis termasuk dalam kelompok yang tidak boleh dinikahi, tetapi tidak termasuk mahrom muabbad. Meskipun seorang perempuan dibolehkan menampakkan rambutnya di depan sesamanya, seorang perempuan tidak boleh bersafar dengan hanya ditemani teman perempuanya saja.

 

Sumber :
Modul Mentoring KSAI Al-Uswah 2017/2018
https://muslimah.or.id/394-lihatlah-siapa-mahrammu-1.html
https://rumaysho.com/1015-siapakah-mahram-anda.html

_______________________________________________

Ditulis oleh Akh Muhammad Yasirroni, S.T., Alumnus SMA Negeri 1 Yogyakarta dan Alumnus Universitas Gadjah Mada. Semoga Allah berkahi dan ampuni dirinya dan keluarganya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here