15873511_10211770849046706_8621349799505783620_n

Catatan Kajian #2

MEMBONGKAR RAHASIA DUKUN

Ust. Dr. Ali Musri, MA

Jum’at, 13 Januari 2017

Masjid Agung Syuhada, Kotabaru, Yogyakarta

 

Kitab Tauhid

Karya Syeikh Muhammad At-Tamimi rahimahullahu ta’ala

BAB

Allah Ta’ala berfirman : “Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’ : 23)

Bab ini merupakan bab yang berkaitan dengan tauhid, khususnya tauhid uluhiyyah. Ilmu yang paling penting dan utama adalah ilmu tentang tauhid dimana dengan ilmu ini merupakan salah satu jalan kesuksesan dan kemajuan seorang manusia baik didunia maupun akhiratnya. Sumber aqidah seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah sehingga dari kedua inilah diperoleh suatu perintah, bukan sebaliknya yakni melakukan suatu perkara kemudian dicari dalil yang sesuai karena dapat dikhawatirkan pencarian dalil tersebut hanya untuk mencari pembenaran terhadap apa yang telah dilakukannya, dan inilah manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.

Pada bab ini, Syeikh Muhammad At-Tamimi memulai judul bab dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini disebabkan beliau mengikuti Imam Bukhari dalam memberikan beberapa judul bab dalam kitab-kitab karya Imam Bukhari.

Pada bab ini menjelaskan bahwa malaikat yang merupakan makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah saja tidak pantas untuk disembah karena rasa takut mereka kepada Allah Ta’ala, terlebih-lebih lagi para makhluk dibawahnya seperti halnya jin dan setan. Malaikat selalu mentaati perintah Allah dan tidak pernah durhaka kepada-Nya, Allah Ta’ala berfirman :

“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim : 6)

Dalam Surat Saba’ ayat 23, Allah menjelaskan bahwa malaikat merupakan makhluk Allah yang memiliki wujud hakiki. Malaikat dapat berbicara dan dapat pula mendengar serta malaikat juga memiliki hati, akan tetapi kaifiyah (bentuk) dari wujud malaikat itu sendiri tidak dapat disamakan dengan wujud manusia. Dalam ayat tersebut juga menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat berbicara dan kaifiyah (bentuk) dari bagaimananya Allah berbicara tidak dapat disamakan dengan manusia. Apapun yang difirmankan oleh Allah adalah Al-Haq atau perkataan yang benar. Diakhir ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Dialah yang Maha Tinggi dan Maha Besar sehingga pantas bagi makhluk-makhluk Allah termasuk malaikat takut kepada-Nya. Bahkan tidak terkecuali malaikat yang memikul ‘Arsy Allah Ta’ala dimana disebutkan dalam sebuah hadits tentang besarnya mereka, Rasulullah bersabda dalam hadits Jabir bin Abdillah, “Aku diizinkan untuk membicarakan seorang malaikat dari para malaikat Allah dari pemikul Al-Arsy, sungguh jarak antara daun telinganya sampai bahunya sepanjang perjalanan 700 tahun.”

(Sanadnya shahih, diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya 5/96 No.4727, Alkhothib dalam tarikhnya 10/195 dan Albaihaqy dalam Al Asma wa Shifat hal. 397 dari hadits Ibnul Munkadir dari Jabir. Berkata Adz -Dzahabiy dalam kitabnya Al Ulu : sanadnya shohih dan berkata Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 4/414 :Sanadnya baik dan perawi-perawinya tsiqat semua)

Sifat tinggi bagi Allah meliputi tinggi Dzat-Nya, tinggi keputusan-Nya dan tinggi kemuliaan-Nya atau kehormatan-Nya. Maka dari itu, tidaklah pantas bagi seorang hamba mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, Dialah yang Maha Tinggi dan Maha Besar, sekalipun yang mereka sembah adalah malaikat.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk dengan firman-Nya. Firman Allah yang mereka dengarkan itu seolah-olah seperti suara gemerincing rantai di atas batu. Hal ini memekakkan mereka. Apabila rasa takut itu telah dihilangkan dari hati mereka, mereka mengucapkan, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar. Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.””

“Setan-setan penyadap berita pun mendengarkan berita itu. Para penyadap berita itu posisinya saling bertumpuk-tumpukan. Sufyan menggambarkannya dengan memiringkan telapak tangannya dan merenggangkan jari-jemarinya. Jika setan yang diatas mendengar berita itu maka segera dia sampaikan kepada setan yang berada dibawahnya kemudian yang lain juga menyampaikan kepada setan yang berada dibawahnya hingga sampai kepada tukang sihir dan dukun.”

“Terkadang setan penyadap berita itu terkena meteor sebelum sempat menyampaikan berita itu. Terkadang pula setan itu bisa menyampaikan berita itu sebelum terkena meteor tadi. Lalu dengan berita yang didengarnya itulah tukang sihir atau dukun itu menyampaikan banyak kedustaan. Orang-orang yang mendatangi tukang sihir atau dukun pun mengatakan, “Bukan kah pada hari itu, dia telah mengabarkan kepada kita bahwa akan terjadi demikian dan demikian.” Akibatnya, tukang sihir dan dukun itu pun percaya karena satu kalimat yang telah didengarnya dari langit.” (HR. Bukhari 4701)   

Maka dengan cara tersebut para dukun maupun tukang sihir dapat mengabarkan suatu kebenaran yang mereka ketahui dari setan-setan yang telah mencuri berita dari langit. Akan tetapi, berita tersebut tidaklah diberikan kecuali dengan melakukan hal-hal yang menyebabkan pelakunya terperangkap dalam perbuatan kekufuran termasuk diantaranya perbuatan-perbuatan bid’ah. Setan menjerumuskan manusia dalam perbuatan dosa melalui dua jalan yakni maksiat dan bid’ah, namun mereka lebih senang menjerumuskan manusia melalui bid’ah dibandingkan dengan maksiat. Bid’ah lebih mereka sukai karena bid’ah merupakan perbuatan dosa yang samar bagi pelakunya, bahkan pelaku kebid’ahan merasa dirinya berada dijalan kebenaran. Sebaliknya, pelaku-pelaku maksiat sadar bahwa mereka melakukan suatu perbuatan dosa. Contoh perbuatan bid’ah tersebut seperti melakukan dzikir-dzikir khusus didalam sebuah tempat dengan memajang foto seorang kiai didepannya dan membayangkan wajah sang kiai setelah dirinya pergi ke dukun untuk meminta sesuatu.

Akan tetapi, pada masa dimana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam diutus maka Allah melempar mereka (setan-setan yang saling bertumpuk-tumpuk) dengan bintang agar tidak dapat mencuri berita dari langit. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk : 5)

Dalam hadits diatas juga menjelaskan bahwa salah satu perbuatan setan adalah mencuri. Sebagaimana hadits Abu Huroiroh dan Ubay bin Ka’ab terkait kisah setan yang sedang mencuri dan ketahuan oleh keduanya.

Hukum mendatangi tukang dukun, baik hanya sekedar bertanya, membenarkan atau pun melakukan perbuatan yang diperintah adalah haram dan bahkan merupakan bentuk kekufuran apabila seorang tersebut telah menghambakan diri kepada jin ataupun setan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun kemudian membenarkan perkataannya, maka ia telah kufur dengan Al Qur’an yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam.” (HR. Al Hakam [I/8] dishahihkan dan disepakati oleh Adz Dzahabi dan Al Albani dalam Al Irwa’ [2006])

Contoh-contoh perbuatan yang diperintahkan oleh dukun seperti mencuri celana dalam wanita, berzina dengan beberapa orang, menulis Al-Qur’an dengan darah haid, sujud dengan mengahadap arah-arah tertentu dan sebagainya.

Bahaya mendatangi tukang dukun dan bertanya kepadanya, yakni seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallalahu ‘alayhi wasallam yang diriwayatkan dari sebagian istri Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal dan meminta untuk mengabarkan sesuatu, kemudian ia membenarkan perkataannya maka tidak diterima shalatnya 40 hari.”

(HR. Muslim [2230] tanpa lafadz “..kemudian ia membenarkan perkataannya..” Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullahu ta’ala menjelaskan makna “tidak diterima shalatnya” dengan “tidak diberi pahala shalatnya”. Sehingga shalat tetap wajib bagi orang tersebut. Wallahu a’lam)

Dalam hadits lain Nabi Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”. Para sahabat bertanya, “Apa itu?”. Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, melarikan diri dari peperangan, menuduh berzina wanita-wanita mukminah yang suci.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, sihir merupakan salah satu dosa besar dimana Rasulullah menyebutkan perbuatan tersebut setelah menyekutukan Allah. Adapun hukuman bagi tukang sihir atau dukun adalah dibunuh namun yang berhak untuk membunuh mereka adalah penguasa didaerah tersebut.

An Nuwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Apabila Allah ingin mewahyukan suatu perintah, maka Dia pun berfirman dengan wahyu tersebut. Langit pun bergetar keras karena takut kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila malaikat penghuni langit mendengar wahyu tersebut, mereka pun pingsan dan bersungkur sujud kepada Allah. Malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril. Allah lantas berfirman kepadanya dengan wahyu sesuai dengan kehendak-Nya.”

“Jibril lantas melewati para malaikat. Setiap kali dia melewati satu langit, para malaikat yang ada di langit tersebut bertanya kepadanya, “Wahai Jibril, apa yang telah difirmankan oleh Rabb kita?” Jibril menjawab, “Allat telah memfirmankan sesuatu yang benar. Dia Maha Tinggi dan Maha Besar.” Semua malaikat pun mengucapkan seperti perkataan Jibril tadi. Jibril lantas menyampaikan wahyu itu sesuai dengan perintah Allah ‘azza wa jalla.” (Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam kitab At-Tafsir 22/91, Ibnu Khuzamah dalam At-Tauhid 206, Thabrani dalam kitab Musnad Asy Syamiyin 591)

Sejatinya perkataan dukun atau tukang sihir adalah kebohongan. Mereka membumbui berita yang mereka curi dilangit dengan kedustaan. Banyak kebohongan didalamnya, namun karena terdapat satu kebenaran sehingga yang manusia ingat hanya satu kebenaran tersebut. Oleh karena itu, tidak jarang manusia berbondong-bondong untuk mendatangi tukang sihir. Rasulullah bersabda, “Para malaikat saling berbicara di atas awan dan awan-awan yang gelap tentang berbagai urusan yang akan terjadi di bumi lalu didengar oleh setan-setan kemudian setan-setan itu membisikkannya pada telinga para dukun sebagaimana botol ditiup lalu setan-setan itu menambah urusan yang didengarnya itu dengan 100 kedustaan.” (HR. Bukhari no. 3288).

Oleh karena itu, telah jelas bahwa apa yang disampaikan oleh dukun, peramal, ataupun tukang sihir juga mengandung kebenaran dimana kebenaran tersebut diperoleh dengan cara setan mencuri berita dari langit. Akan tetapi, setan-setan tersebut menambahkan apa yang didengarnya dengan 100 kedustaan. Perbuatan mendatangi dukun untuk bertanya dan membenarkan merupakan suatu bentuk kekufuran dimana perbuatan itu dapat mengeluarkan pelakunya dari islam apabila hingga tingkatan menghambakan diri kepada setan atau jin tersebut. Maka dari itu, berhati-hatilah terhadap perbuatan ini dan dakwahkanlah tauhid kepada masyarakat umum. Wallahu ta’ala a’lam

Narasi oleh : Muhammad Isma’il Hamidy

Catatan Kajian Kitab Tauhid #16 – Membongkar Rahasia Dukun
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *