Efisiensi Waktu Antara Berkerja dan Tholibul Ilmi

Oleh: Dr. Syadi Muhammad An-Nu’man

Pada kesempatan ceramah ini, insya Allah kita akan membahas tentang sebuah perkara yang urgen yang banyak menjadi sebuah problem bagi para penuntut ilmu syar’i. Yaitu tentang bagaimana seorang tholibul ‘ilmi mampu mensinkronkan antara tholabul ‘ilmi dengan kesibukan-kesibukan dan aktivitas-aktivitas yang lain seperti bekerja. Pada kesempatan kali ini kami ingin memberikan beberapa trik dan nasehat bagaimana seorang muslim mampu untuk menggabungkan antara mencari ilmu dan kesibukan-kesibukan yang lain.

Nasehat Yang Pertama: Adanya kesibukan bukan berarti alasan untuk meninggalkan tholabul ‘ilmi

Betapa banyak seorang yang mereka mencintai tholabul ‘ilmi namun banyak meremehkan tentang perkara tersebut, ketika ia ditanya kenapa ia kurang dalam mencari ilmu, maka ia akan menjawab kepadamu, ‘bagaimana mungkin saya mampu untuk mencari ilmu sementara saya sibuk bekerja’, maka ini tidak diragukan lagi adalah pikiran yang salah, sejatinya kesibukan dengan profesi duniawi bukan berarti ia harus meninggalkan tholabul ‘ilmi. Marilah kita bersama mengambil pelajaran dan tauladan dari para shahabat Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan juga para imam yang mengikuti mereka dengan baik diatas petunjuk.

Lihatlah sosok Abu Bakr As-Siddiq radhiyallahu’anhu beliau adalah seorang pedagang yang tersohor dan diwaktu yang sama beliau adalah orang yang paling dekat dengan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, barang perniagaan yang ia miliki tidaklah melalaikannya dari agamanya. Demikian juga sosok Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu beliau adalah pedagang yang kaya raya, demikian juga Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu, dan juga sederetan para shahabat yang lain.

Engkau akan dapati pada diri shahabat bahwa mereka memiliki trik dan metode yang jitu dalam mensinkronkan antara mencari ilmu dan menjalankan profesi duniawinya. Ambil contoh disini adalah apa yang dituturkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, “Dahulu aku dan tetanggaku dari Anshar, kami saling bergantian dalam menghadiri majelis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, adakalanya satu hari dia yang turun kemudian satu hari berikutnya aku yang turun, apabila aku yang turun maka sekembalinya aku dari majelis tersebut aku menceritakan kepada tetanggaku tentang wahyu yang turun atau hal yang lainnya pada hari tersebut, apabila yang turun tetanggaku maka ia pun melakukan seperti apa yang aku lakuakan. Maksudnya disini, Umar selama satu hari disibukkan dengan berdagang dan pekerjaan duniawi kemudian tetangganya pada hari tersebut turun untuk menghadiri majelis ilmu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, kemudian pada hari berikutnya giliran Umarlah yang mencari ilmu sedangkan tetangganya orang Anshar dia berdagang dan melakukan pekerjaan duniawinya.

Telah datang didalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengirim sebagian ahli qurra’ kepada sebagian komunitas manusia yang mana mereka mengajarkan Al-Qur’an dimalam hari dan pada pagi harinya mereka mencari dan mengumpulkan kayu untuk dijual. Maka perhatikanlah bagaimana mereka mampu menghimpun antara mengajarkan Al-Qur’an dan pekerjaan duniawi.

Hal tersebut juga dipraktekkan oleh para pakar ulama kita dan para imam salaf yang mereka mampu untuk menggabungkan antara mencari ilmu dan pekerjaan duniawi:
– Al-imam Abu Hanifah memiliki sebuah rumah produksi tekstil yang besar dan memiliki karyawan serta pekerja bayaran yang banyak.
– Al-imam Ibnul Mubarak juga berprofesi sebagai pedagang, meskipun demikian beliau adalah imam dalam Fiqih dan Hadits.
– Al-imam Ibnu Hubairah beliau adalah beliau adalah seorang menteri diantara jajaran pejebat menteri yang lainnya, meskipun demikian beliau memiliki semangat yang luar biasa dalammencari ilmu, menghimpun kitab-kitab, dan melakukan upaya pendekatan di kalangan para ulama. Hingga berkata imam Adz-Dzahabi tentang beliau, “Ia (Ibnu Hubairah) adalah seorang yang antusias dalam tholabul ‘ilmi dan menghimpun (berbagai macam) disiplin ilmu.”
– Hamzah bin Habib Az-Zayyat salah seorang salah satu qari’ dari tujuh qari’ yang terkemuka, dia berpropesi sebagai penjual minyak yang mana minyak tersebut dia ambil dari Kufah dan dijual di Mesir. Oleh sebab itu beliau terkenal dengan jululukan Az-Zayyat (penjual minyak).
– Al-imam Ya’qub bin Sufyan Al-Faswi salah seorang dari imam ahli hadits kesibukannya adalah menyalin kitab-kitab dimalam hari kemudian ia mengambil bayaran dari profesi tersebut hingga disiang harinya ia bisa mencari ilmu.
– Al-Qaffal Al-Marwazi salah satu imam terkemulan dari madzhab Syafi’iyah beliau berprofesi sebagai pembuat gembok.
– Al-imam An-Nawawi biasa membantu orang tuanya yang berjualan di toko kecilnya, namun hal tersebut sama sekali tidaklah menyibukkan beliau dari mempelajari dan menghafal Al-Qur’an.
– Sampai-sampai para ulama kontemporer pun ada diantara mereka yang menggabungkan antara belajar dan bekerja. Al-Allamah Al-Albani beliau berprofesi sebagai tukang kayu bersama pamannya kemudian setelah itu beliau membuka toko kecil tempat penjualan dan reparasi jam. Beliau memanfaatkan waktu kosong untuk mencari ilmu dan membaca kitab-kitab sehingga jadilah beliau sebagai imam dari imam-imam ahli hadits masa kini.
– Apabila anda -wahai saudaraku yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala-, mau meneliti sejarah para ulama pastilah anda akan dapati bahwasanya mayoritas mereka adalah orang-orang berprofesi. Bila anda membaca biografi para ulama anda akan mendapati bahwa Fulan bin Fulan (dari kalangan para ulama) berprofesi sebagai pengerajin tekstil, apoteker, dokter, atau pengerajin kayu. Inilah yang kita dapatkan dari para ulama mereka adalah orang-orang memiliki profesi yang beragam.

Nasehat Yang Kedua: Manfaatkanlah Waktu Dengan Sebaik-baiknya

Setelah kita paparkan sebelumnya bahwa merupakan hal yang haruslah dikerjakan oleh seseorang bahwa ia haruslah mampu mengumpulkan antara mencari ilmu dan bekerja, pada kesempatan ini kami akan memberikan sebuah masukan dan nasehat yang membantu anda untuk mewujudkan hal tersebut. Yang mana nasehat tersebut erat kaitannya dengan pemanfaatan waktu secara maksimal.

Yang menjadi sebuah problem bahwa banyak diantara para penuntut ilmu yang mana mereka bekerja dari pagi sampai setelah ‘Ashar namun disayangkan sisa waktu setelahnya sia-sia dan tidak termanfaatkan dengan baik, kemudian ia akan berkata kepadamu, ‘saya tidak bisa hadir di majelis taklim karena waktu saya habis untuk bekerja’. Subhanallah, dimana semangat untuk mencari ilmu?! Apakah ia lupa atau pura-pura lupa dengan nasehat para salaf, “Ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan jasad yang santai.”

Oleh kerena itu yang harus anda camkan adalah efisiensi dalam pemanfaatan waktu anda, manfaatkan setiap menit yang berjalan dari waktu kosong anda untuk menghadiri majelis taklim, membaca, dan meneliti suatu masalah agama.
– Karena urgennya suatu waktu dalam kehidupan seorang muslim maka Allah Ta’ala pun bersumpah dengan sebagian waktu, hal itu tidak lain karena berharganya waktu tersebut, sebagaimana dalam firman-Nya: “Demi waktu Dhuha”, “Demi waktu malam”, “Demi waktu Fajar”, “Demi waktu ‘Ashar.
– Karena urgensi suatu waktu dalam kehidupan seorang muslim, terkadang kita dapati (di dalam Al-Qur’an) Allah mengkaitkan suatu amalan ibadah dengan waktu tertentu contoh: waktu shalat lima waktu, waktu masuknya puasa Ramadhan, dan hari-hari Haji, hal itu dengan tujuan agar seorang muslim selalu memperhatikan waktu-waktu yang berlalu dihadapannya.
– Karena berharganya waktu tersebut Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang mana banyak lalai padanya: yaitu kesehatan dan waktu luang.”
Maksudnya, banyak diantara manusia yang tidak memperhatikan evisiensi waktunyan dengan baik yaitu dengan memanfaatkan waktu luangnya secara maksimal.

Saudaraku yang dimuliakan oleh Allah apabila kita menilik biografi para ulama kita akan dapati bahwa tidaklah mereka menjadi seorang imam dalam Islam kecuali karena mereka bisa memanfaatkan waktu mereka dengan baik.
– Ambil contoh Ibnu Mas’ud beliau merasa menyesal apabila telah lewat bilangan hari pada beliau tanpa ada suatu faedah, hingga ia pun berucap, “Tidak ada suatu hari yang lebih aku sesalkan selain dari pada terbenamnya matahari pada hari tersebut, yang mana itu pertanda semakin dekat ajalku, sementara amalanku sedikit.”
– Berkata Al-Hasan Al-Bashri, “Wahai anak adam, tidak lain engkau hanyalah melewati waktu-waktu, apabila telah hilang harimu hilanglah sebagian waktumu.
– Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Sesungguhnya waktu yang aku rasakan paling berat adalah waktu dimana aku sedang makan. Karena ketika aku menggunakan waktuku untuk makan tidak ada faidah ilmiyah yang aku dapatkan.
– Dikisahkan tentang biografi Abu Yusuf Al-Qadhi seorang ahli fiqih dari madzhab Hanafi murid dari imam Abu Hanifah, bahwa Abu Yusuf pernah berdiri dari tempat tidurnya ketika dalam keadaan sakit menjelang wafatnya dalam rangka meneliti tentang masalah fiqhiyyah.
– Dikisahkan juga tentang biografi Ibnu Jarir At-Thabari bahwa beliau bangun dari tempat tidurnya ketika sakit menjelang wafatnya untuk menyusun suatu masalah ‘ilmiyyah, kemudian beliau berkata, “Wajib bagi kita untuk mencari ilmu sampai mati.”
– Imam Ibnul Jauzi beliau berlindung kepada Allah dari pertemanan dengan seorang penganggur.

Dan gambaran tentang keteguhan ulama salaf maupun ulama kontemporer dalam mereka memanfaatkan waktu amatlah sangat banyak wahai saudaraku, dan kami yakin seorang yang sibuk dengan pekerjaannya apabila mereka benar-benar memanfaatkan setiap detik waktu yang bergulir dihapannya pastilah mereka bisa mendapatkan faedah yang terkadang tidak bisa didapatkan oleh orang-orang yang mereka mengkonsentrasikan diri untuk mencari ilmu. Akan tetapi realita yang ada disana terdapat banyak sekali terjadi banyak pembuangan waktu yang dilakukan oleh para tholibul ‘ilmi, yang mana kebanyakan waktu mereka digunakan untuk perbincangan yang tidak bermanfaat, untuk kumpul-kumpul, makan-makan, dan main-main yang tidak ada faedahnya, kondisi mereka yang demikian tidak pantas kelau mereka disebut sebagai penuntut ilmu, karena karekteristik para penuntut ilmu adalah memanfaatkan waktunya secara maksimal.

Apabila anda sering terjebak kemacetan ketika anda ingin melakukan aktifitas pekerjaan, maka keluarkanlah buku anda dan manfaatkanlah waktu untuk mebaca ketika sedang berada dilampu merah, bisa juga dengan anda mendengarkan ceramah atau muhadhoroh lewat hp anda, atau memalui media-media yang lainnya. Dan saya yakin apabila anda di negara Indonesia ini bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal dalam kerja atau ketika pulang dari kerja pastilah masih ada waktu yang cukup untuk mencari ilmu. Karena di negara Indonesia ini sering sekali terjadi kemacetan jalan ketika seorang pulang pergi, terutama di kota Jakarta.

Nasehat Yang Ketiga: Sesunggunya lemah semangat di dalam mencari ilmu adalah problem yang banyak dihadapi oleh para penuntut ilmu tidak hanya orang-orang yang sibuk bekerja saja

Kalau seandainya para penuntut ilmu memiliki semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala dalam menuntut ilmu bukan mustahil pastilah Allah Ta’ala akan memberikan taufiq kepadanya (untuk mendapatkan ilmu) walaupun ia mengalami kesibukan dalam bekerja.
Apabila kita meneliti sejarah para ulama, pastilah kita akan mendapati hal yang manakjubkan tentang tingginya semangat mereka didalam menuntut ilmu.
– Tahukah anda ada diantara ulama yang sampai kehilangan betisnya karena menuntut ilmu yaitu Al-Khawarizmi, yang mana menimpa padanya hawa dingin yang sangat tatkala ia sedang melakukan rihlah (perjalanan) menuntut ilmu sehingga menyebabkan kakinya terinfeksi kemudian dokter memutuskan untuk dipotong kaki tersebut.
– Tahukah anda ada diantara para ulama yang sampai kencing darah karena mengalami kepayahan dalam melakukan perjalanan menuntut ilmu, yaitu Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi.
– Tahukah anda ada diantara ulama yang sampai terpaksa meminum air kencingnya sendiri karena tidak mendapatkan air.
– Tahukah anda tentang kisah ulama yang hampir meninggal karena kehausan ketika sedang melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu? Seperti imam Abu Hatim Ar-Razi.
– Tahukah anda bahwa imam Bukhari dalam satu malam terbangun dari tidurnya selama dua puluh kali karena memuraja’ah ilmu.
– Tahukah anda bahwa imam Ali bin Al-Madini mendapatkan warisan dari keluarganya sebesar satu juta dirham, dan beliau menginfaqkan seluruhnya untuk menuntut ilmu hingga tidak ada yang tersisa sedikitpun selain sandal yang melekat di kakinya.
Ini hanyalah gambaran kecil saja dari keseriusan para ulama dalam menuntut ilmu, bahkan lebih dari itu mereka pun mencurahkan segala hal yang mereka miliki untuk mencari ilmu, saya mengira tidak ada di zaman ini orang-orang yang memiliki semangat seperti mereka, bahkan yang ada justeru mereka beralasan ‘saya sibuk sehingga tidak sempat mencari ilmu’!!!

Nasehat Yang Ke Empat: Bersungguh-sungguhlah Dalam Menempuh Metode Yang Benar Dalam Menuntut Ilmu

Banyak sekali diantara para penuntut ilmu bertahun-tahun dia menuntut ilmu akan tetapi dia tidak terlalu mendapatkan faedah dari apa yang ia pelajari, hal itu terjadi karena ia tidak menempuh jalan yang ditempuh oleh para ulama dalam menuntut ilmu. Banyak diantara mereka tidak mengetahui kitab apa yang harus dimulai untuk dikaji, dan bagaimana ia mendapatkan faedah dari ahli ilmu tatkala mengkaji kitab tersebut. Apabila seorang penununtut ilmu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada waktu yang tersisa untuknya kecuali sedikit saja, maka sebelum dia menuntut ilmu dia harus mengetahui metode yang benar dalam menuntut ilmu hingga waktunya yang hanya tersisa sedikit tersebut belalu dengan sia-sia. Sebagai contoh bagi kita disini: apabila ada dua orang penuntut ilmu yang pertama dia berkonsentrasi penuh dalam menuntut ilmu akan tetapi dia tidak menggunakan metode yang benar dalam menuntut ilmu, sedangkan yang kedua dia sibuk dengan pkerjaannya hingga tidak tersisa baginya untuk menuntut ilmu kecuali hanya sedikit saja dari waktunya akan tetapi dalam menuntut ilmu dia memiliki metode yang benar, kita yakin bahwa orang yang kedua ini akan memperoleh ilmu dengan waktunya yang sedikit apa yang tidak diperoleh oleh orang yang pertama tadi. Pemabahasan tentang metode yang benar dalam menuntut ilmu membutuhkan ceramah tersendiri, maka cukuplah apa yang kami sebutkan tadi sebagai peringatan tentang pentingnya hal tersebut.

Nasehat Yang Ke Lima: Apabila Waktu Yang Anda Miliki Sangat Sempit Maka Prioritaskanlah PerkaraYang Paling Penting

Apabila waktu yang anda miliki sangatlah sempit maka mulailah untuk mempelajari hal-hal yang paling penting terlebih dahulu. Maksudnya disini, apabila anda adalah orang yang sangat sibuk, sedangkan waktu yang digunakan untuk mencari ilmu sangatlah sedikit, maka mulailah dengan anda memprioritaskan pelajaran yang terpenting seperti aqidah shahihah, rukun-rukun Islam, dan yang selainnya. Kemudian pelajarilah masalah-masalah ilmiyah berkaitan dengan pekerjaan yang anda geluti, ambil contoh apabila anda adalah seorang dokter maka bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari masalah-masalah ilmiyah yang khusus membahas tentang hukum-hukum kedokteran. Apabila anda adalah seorang pedagang maka pelajarilah hukum-hukum yang terkait dengan permasalahan yang terkait dengan zakat dst. Bila anda masih memiliki waktu yang longgar lagi maka perluaslah pengetahuan anda dengan masalah-masalah agama yang lainnya, apabila tidak ada maka hal diatas sudah mencukupi insya Allah.

Nasehat Yang Ke Enam: Pekerjaan Yang Tidak Terikat Lebih Baik Dari Pada Pekerjaan Yang Terikat

Apabila anda bisa bekerja dengan pekerjaan yang tidak terikat dengan waktu tertentu ketika memulai maupun mengakhiri pekerjaan maka itu lebih bermanfaat untuk mencari ilmu, karena waktu tersebut sepenuhnya dibawah pengaturannya, sehingga ia bisa mencari ilmu kapan pun dia berkehendak dan bisa bekerja kapanpun dia berkehendak.

Oleh karena itu Al-Allamah Al-Albani beliau memiliki tempat untuk reparasi jam, apabila beliau membutuhkan uang maka beliau membuka tokonya dan melakukan aktivitas bekerja. Kemudian syaikh Al-Albani menutup tokonya kapan saja ia mau ketika dia ingin mencari ilmu.
Oleh karena itu kami nasehatkan kepada para penuntut ilmu yang telah memiliki modal yang cukup hendaknya dia membuka wira usaha yang ia jalankan sendiri karena hal tersebut lebih utama dari pada dia harus bekerja sebagai karyawan yang terikat.

Nasegat Yang Ke Tujuh: Memanfaatkan Teknologi Moderen

Sesungguhnya kita hidup di suatu zaman yang terdapat didalamnya segala bentuk fasilitas yang bisa kita manfaatkan untuk mencari ilmu yang tiada duanya sepanjang sejarah peradaban manusia, akan tetapi yang menjadi problem adalah lemahnya semangat dan spirit untuk mencari ilmu.

Padahal di zaman ini anda bisa mendengarkan berpuluh-puluh ceramah ataupun khotbah-khotbah yang bisa anda ambil faedahnya dalam kondisi sedang bekerja sekalipun.

Pada zaman ini meskipun anda berada didalam rumah namun anda bisa menyaksikan secara langsung dauroh para masyaikh yang ada di Saudi Arabia misalnya melalui sarana internet. Di dalam rumah andapun anda bisa mengikuti kuliah di Universitas Islam melalui sarana internet.
sangat disayangkan para penuntut ilmu terkadang tidak dapat memanfaatkan hal tersebut.

Nasehat Yang Ke Delapan: Pentingnya Bagi Para Penuntut Ilmu Yang Sibuk Dengan Pekerjaannya Hendaknya Ia Mengikuti Daurah-daurah Intensif

Banyak sekali daurah-daurah intensif dibawah bimbingan ahli ‘ilmi yang menyebar di berbagai negeri, yang mana pada daurah tersebut dibahas beberapa syarah penjelasan tentang beberapa matan-matan ilmiyah, kitab-kitab ilmiyah dalam waktu yang singkat satu minggu atau dua minggu namun dengan penjelasan yang ringkas sekali. Para penuntut ilmu yang mereka memiliki kecerdasan apabila mereka mengikuti daurah-daurah tersebut pastilah mereka akan mendapatkan faedah yang banyak hanya dalam tempo waktu yang singkat sekali. Hal semacam ini akan sangat bermanfaat sekali apabila di praktekkan di Indonesia ini terutama bagi orang-orang yang memiliki kesibukan.

Nasehat Yang Ke Sembilan: Jadilah Engkau Seorang Yang Mengajak Kepada Kebaikan Di Tempat Bekerja

Apabila anda adalah orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan anda sehingga anda tidak bisa mendapatkan banyak ilmu karena kesibukan tersebut, maka disana ada alternatif lain yang mudah, anda bisa membagi-bagikan buletin-biletin ilmiyah, kaset-kaset dakwah, atau bisa memberikan nasehat (kepada teman kerja) dengan cara yang lemah lembut, atau dengan metode lainnya dalam rangka untuk mensosialisasikan dakwah sehingga Allah akan memberikan manfaat melalui keberadaan anda di tempat anda bekerja.

Nasehat Yang Ke Sepuluh: Merupakan Kewajiban Orang-orang Yang Kaya Dan Mampu Agar Mereka Mengkafalahi Para Tholibul ‘Ilmi Yang Membutuhkan

Merupakan kewajiban atas orang-orang yang kaya dan mampu dari kalangan kaum muslimin yang mereka memiliki kepedulian terhadap agama mereka adalah memberikan kafalah bagi para tholibul ‘ilmi yang mereka memiliki kecerdasan namun mereka adalah orang-orang yang tidak mampu. Karena (para tholibul ‘ilmi) merekalah yang menjaga agama Islam dan membelanya, serta merekalah yang membantah syubhat-syubhat para penyeleweng.

Saya harapkan bagi orang-orang yang mereka memiliki kelonggaran harta –setelah mendengarkan nasehat ini- untuk membulatkan tekad dan niat dalam rangka membiayai para tholibul ‘ilmi agar mereka lebih konsentrasi dalam mencari ilmu sehingga mereka kelak akan menjadi tentara-tentara yang siap membela agamanya.

Membiayai para penuntut ilmu adalah sunnah yang telah dikenal oleh para salaf terdahulu, Al-imam Al-Laits bin Sa’ad imamnya negeri Mesir pernah memberikan nafkah untuk Al-imam Malik imamnya penduduk Madinah, demikian juga Al-imam Abu Hanifah pernah membiayai para tholibul ‘ilmi agar mereka lebih fokus dalam menuntut ilmu.

Oleh karena itu marilah kita bersama menghidupkan sunnah tersebut pada zaman ini agar para penuntut ilmu yang cerdas mereka berkhidmat untuk agama ini.

Nasehat Yang Ke Sebelas: Bagi yang super sibuk, pelajari hal-hal yang asasi saja dalam permasalahan agama anda dengan tetap menjaga semangat etos kerja dalam pekerjaan dan profesi anda

Disana ada diantara para tholibul ‘ilmi yang mereka memiliki pekerjaan yang super sibuk, sehingga ia tidak ada kesempatan untuk mencari ilmu. Maka kita katakan kepada dia bahwa apabila haji saja yang merupakan rukun Islam akan jatuh apabila tidak ada kemampuan, apalagi untuk mengkonsentrasikan diri dalam menuntut ilmu dan memperluas pengetahuan tentangnya apabila ia tidak mampu untuk melakukan hal tersebut maka hal tersebut tidak mengapa baginya. Yang harus anda lakukan dalam kondisi tersebut adalah mempelajari hal-hal yang asasi saja dalam permasalahan agama anda dengan tetap menjaga semangat etos kerja dalam pekerjaan dan profesi anda, hal ini agar menjadi suatu gambaran yang baik bagi kaum muslimin yang lain tentang pentingnya prestasi baik dalam pekerjaan dunianya dengan tetap menjaga keikhlasan dihadapan Allah Ta’ala. Sebagai contoh: kita sangat membutuhkan seorang dokter yang adil, terpercaya, dan memiliki agama yang bagus, kita juga butuh seorang insinyur yang terpercaya, guru yang terpercaya, dan dalam seluruh pekerjaan duniawi yang kita butuhkan adalah orang-orang yang konsekuen terhadap syari’at Allah karena hal tersebut juga diantara faktor kemenangan bagi Islam dan kaum muslimin.

Kami memohon kepada Allah agar apa yang disampaikan ini bermanfaat bagi bagi kita semua dan mudah-mudahan hal tersebut sebagai hujjah yang membela kita bukan hal yang menjadi bumerang bagi kita. Wassalamu’alaikim Warahmatullah Wabarakaatuh.

Disalin dari catatan facebook Retno Syahputra

Efisiensi Waktu Antara Bekerja dan Menuntut Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *