Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwasahnya membaca al-Fatihah dalam shalat adalah termasuk bagian dari Rukun Shalah dimana shalat tidak akan sah tanpa membacanya. Dalilnya berikut ini :

Hadits ‘Ubadah bin ash-Shomit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca al-Fatihah” (Shahih HR. Bukhori 756 dan Muslim 394)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ» ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca al-Fatihah di dalamnya, maka shalatnya terputus, shalatnya terputus, shalatnya terputus, tidak sempurna…. (al-Hadits)” (Muslim 395, Abu Dawud 821, Tirmidzi 2953, Ibnu Majah 838, Nasa’I 2/135)

Sehingga dari dua hadits tadi sudah sangat nampak bahwa tanpa membaca al-Fatihah, maka sholat tidak akan sah. Demikianlah pendapat jumhur ulama.

Apakah Makmum Juga Membaca al-Fatihah?

Dalam masalah ini ada tiga pendapat dikalangan ulama, akan tetapi yang rojih adalah al-Fatihah ini wajib dibaca oleh imam maupun makmum baik dalam sholat sirriyah maupun jahriyah secara mutlak, Wallahu a’lam

Berikut ini sedikit penjelasan mengenai 3 pendapat tersebut, disertai jawaban-jawabannya

Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama :

Pertama : Makmum tidak membaca dalam shalat-shalat sirriyah maupun jahriyah. Ini adalah madzhab Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya. (Lihat al-Mabsuth 1/200 dan al-Bda’I 1/103)
Hujjah mereka :

1. Hadits yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang sholat bersama imam, maka bacaan imam adalah bacannya.” (Dhoif. HR Ibnu Majah 850, Ahmad 14116, dan Fathul Qodir 1339. Syaikh Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liq Ibnu Majah : Sanadnya dhoif dikarenakan dhoifnya Jabir al-Ju’fiy, dan Abu Zubair tidak secara tegas mendengar langsung dari Jabir (dari kalangan shahabat).

Jawaban : Selain haditsnya dipermasalahkan oleh sebagian ulama, akan tetapi jika memang katakanlah shohih maka hal itu dikecualikan dari bacaan al-Fatihah karena hadits berikut :
Dari seorang shahabat Nabi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Barangkali kalian membaca di belakang imam pada saat imam sedang membaca?” Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami memang melakukannya.” Beliau mengatakan, “Janganlah lakukan, kecuali salah seorang dari kalian membaca Ummul Kitab –atau beliau mengatakan :al-Fatihah.” (HR. Ahmad 20600, Bukhari 63 dalam Juz al-Qiroah, Baihaqi 2/166. Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liq terhadap Musnad : Isnadnya shahih, perawinya tsiqoh, perowi Syaikhoin kecuali Muhammad bin Abi ‘Aisyah karena dia termasuk perowi Muslim)

2. Hadits Imron bin Hushain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Dzuhur, lalu ada seorang laki-laki membaca di belakang beliau : Sabbihisma rabbikal a’la. Ketika selesai sholat, beliau bertanya, ‘Siapakah yang membaca tadi?’ Maka seorang laki-laki berkata, “Aku” Beliau berkata, ‘Sungguh aku mengira bahwa sebagian dari kalian tadi telah mengganggu bacaanku”. (HR Muslim 398, Nasa’I 917, Abu Dawud 828)

Jawaban untuk pendalilan ini sama dengan sebelumnya yaitu dikecualikan untuk al-Fatihah

3. Menurut Imam Abu Hanifah, makmum tidak wajib membacanya karena memang membaca al-Fatihah sendiri tidak wajib menurut beliau.
Tidak samar lagi bahwa ini menyelisihi jumhur dan dalil yang shohih yang telah disebutkan di awal tadi

Kedua : makmum membaca surat al-Fatihah pada shalat-shalat sirriyah, tidak pada shalat jahriyyah. Ini adalah madzhab jumhur : az-Zuhri, Malik, Ibnu al-Mubarak, pendapat lama Syafi’I, Muhammad (sahabat Abu Hanifah), ahmad bin Hanbal, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Hujjah mereka adalah :

1. Firman Allah

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kau mendapat rahmat.” (al-A’raf : 204)

Jawaban untuk pendalilan ini sama dengan yang tadi, yaitu diam tetapi dikecualikan dari membaca al-Fatihah untuk menggabungkan seluruh dalil yang ada.

2. Hadits yang menyatakan :

Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir, maka bertakbirlah, (jika ia membaca, maka diamlah).”Para ahli hadits mengganggap cacat tambahan tersebut, yang diriwayatkan Muslim 404, Abu Dawud 603, Nasa’I 931)

Imam Abu Dawud mengatakan, tambahan tersebut tidak shahih. Demikian pula Ibnu Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, ad-Daruquthni dan abu Ali an-Naisaburi. Kesepakatan ahli hadits tentang kedhoifannya harus lebih didahulukan daripada penilaian shahih oleh Imam Muslim. Terlebih lagi, ia tidak meriwayatkannya secara bermusnad (bersambung sanadnya) dalam Shahihnya. Wallahu a’lam (Syarah Shohih Muslim, an-Nawawi 4/123)

Jika demikian keadannya, maka hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah

3. Hadits Ibnu Syihab dari Ibnu Akimah, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah setelah selesai dari shalat dimana bacaan dijaharkan, maka beliau bertanya, ‘Adakah salah seorang di antara kalian yang membaca bersamaku tadi ?” Lalu seseoran menjawab, “Ada, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, ‘sesungguhnya aku katakan, jangan ada yang mengganggu bacaan Qur’an-ku.”
Maka orang-orang pun berhenti membaca di belakang Rasulullah ketika beliau engeraskan bacaannya dalam shalat jahar, sejak meerka mendengar hal itu dari Rasulullah.
(Shahih, Abu Dawud 826, Tirmidzi 312, Nasa’I 2/140, Ibnu Majah 848)

Menurut sebagian ulama, hadits ini memansukh hukum membaca di belakang imam pada shalat jahriyah

4. Hadits

Barangsiapa yang shalat mengikuti imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.” (Dhoif telah diterangkan di awal)

Mereka mengatakan, hadits ini berlaku pada shaat jahriyah. Tidak sebagaimana madzhab Abu Hanifah yang memutlakkan untuk shalat jahriyyah dan sirriyah. Akan tetapi hadits tersebut dhoif.

Ketiga : makmum harus membaca pada shaat sirriyah maupun jahriyah. Ini adalah madzhab Syafi’I dalam pendapat barunya dan sahabat-sahabatnya, Ibnu Hazm, pendapat yang dipilih Syaukani dan Ibnu Utsaimin (al-Umm 1/93, al-Majmu’ 3/322, al-Muhalla 3/236, al-Furu’ 1/428, Nailul author 2/250, Syarh al-Mumti’ 4/247)
Hujjah

1. Hadits ‘Ubadah bin ash-Shomit bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ

Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca al-Fatihah” (Shahih HR. Bukhori 756 dan Muslim 394)

2. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ» ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat dan tidak membaca al-Fatihah di dalamnya, maka shalatnya terputus, shalatnya terputus, shalatnya terputus, tidak sempurna.” Dikatakan kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya kami shalat di belakang imam?!” Abu Hurairah mengatakan, “Bacalah dalam hatimu..” (Muslim 395, Abu Dawud 821, Tirmidzi 2953, Ibnu Majah 838, Nasa’I 2/135)

Dua hadits di atas mengkhususkan keumuman ayat al-Qur’an begitu pula hadits-hadits lainnya (kalau seandainya haditsnya adalah shohih). Sedangkan hadits yang mengatakan, “Apabila imam membaca, maka diamlah,” dengan dikecualikan bacaan al-Fatihah bagi makmum. Apalagi tambahan “Apabila imam membaca, maka diamlah” termasuk tambahan yang diperselisihkan oleh para ulama tentang keshahihhannya. Imam Abu Dawud mengatakan, tambahan tersebut tidak shahih. Demikian pula Ibnu Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, ad-Daruquthni dan abu Ali an-Naisaburi. Kesepakatan ahli hadits tentang kedhoifannya harus lebih didahulukan daripada penilaian shahih oleh Imam Muslim. Terlebih lagi, ia tidak meriwayatkannya secara bermusnad (bersambung sanadnya) dalam Shahihnya. Wallahu a’lam (Syarah Shohih Muslim, an-Nawawi 4/123)

3. Hadits Ubadah bin ash-Shomit, ia berkata, “Kami shalat Shubuh di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau membaca ayat dan kelihatannya beliau mendapatkan kesulitan dalam membacanya. Setelah selesai, beliau bertanya , “Barangkali kalian juga ikut membaca di belakang imam kalian?” Kami menjawab, “Benar, dengan suara lirih, wahai Rasulullah.” Beliau berkata, “Janganlah lakukan , kecuali membaca al-Fatihah, karena tidak ada shalat bagi yang tidak membacanya.” (Hasan, HR. Abu Dawud 823, al-Bukhori dalam Juz al-Qiroah (63, 64) Tirmidzi 311, dan selainnya)

4. “Barangkali kalian membaca di belakang imam pada saat imam sedang membaca?” Mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami memang melakukannya.” Beliau mengatakan, “Janganlah lakukan, kecuali salah seorang dari kalian membaca Ummul Kitab –atau beliau mengatakan :al-Fatihah.” (HR. Ahmad 20600, Bukhari 63 dalam Juz al-Qiroah, Baihaqi 2/166. Syu’aib al-Arnauth dalam ta’liq terhadap Musnad : Isnadnya shahih, perawinya tsiqoh, perowi Syaikhoin kecuali Muhammad bin Abi ‘Aisyah karena dia termasuk perowi Muslim)

Wallahu a’lam. Semua jawaban tadi kami ringkas dan kami simpulkan dari Shahih Fiqih Sunnah karangan Syaikh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim serta kami tambah penjelasan dari beberapa ulama lain.

Hukum Membaca al-Fatihah dalam Sholat
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *