Jangan mencela makanan

nabi tidak mencela makanan

Islam merupakan agama yang mulia dan di dalamnya terdapat pedoman yang sempurna untuk kehidupan manusia. Di dalamnya di atur segala perikehidupan manusia, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, salah satunya adalah adab dalam menyantap makanan dan minuman.

Makanan merupakan salah satu nikmat dari Allah yang jika tidak ada makanan nicaya kita tidak akan bisa betahan hidup. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa Sallam merupakan sebaik-baik manusia yang bisa kita jadikan teladan dalam kehidupan. Beliau ketika menjumpai makanan yang beliau sukai maka akan beliau makan dan jika beliau menjumpai makanan yang kurang beliau sukai beliau tidak lantas mencelanya. Tidak sebagaimana yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, banyak diantara teman kita atau bahkan kita sendiri, ketika menjumpai makanan yang menurut kita tidak enak kita langsung mencelanya, bahkan mengucapkan kata yang kurang pantas dan sumpah serapah semacam, “Makanan macam apa ini? makanan ini lebih layak disebut sampah”. Kata-kata yang seperti itu tidak layak diucapkan oleh seorang muslim.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا عَابَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sama sekali.”

[HR al-Bukhâri dan Muslim].

Berbeda dengan makanan haram, beliau melancarkan celaan padanya. Bahkan melarang mengkonsumsinya.

Apabila makanan yang dihidangkan beliau sukai, maka beliau menyantapnya. Sedangkan sikap beliau saat menghadapai jamuan yang tidak menarik hati, beliau tidak menjamahnya dengan tanpa mencela makanan atau mengeluarkan komentar miring apapun terhadapnya.

كَانَ إِذَا اشْتَهَى شَيْئًا أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ

Kalau beliau menyukainya, maka akan beliau makan. Dan jika tidak menyukainya, beliau meninggalkannya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

Sikap di atas merupakan keagungan dan keluhuran akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau menghormati perasaan orang yang telah memasak atau membuatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka mencela hasil kerja orang yang membuatnya sehingga dapat menyakiti hatinya. Sisi lain, tidak menutup kemungkinan, ada orang lain yang menyukai makanan tersebut. Hadits di atas juga, mengajarkan sikap ksatria dalam menghadapi makanan yang tidak disuka, yaitu dengan cara tidak menyentuh dan meninggalkannya.

Selain itu, bentuk penghargaan lain terhadap makanan, walaupun tidak selalu dilakukan, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji makanan-makanan. Terdapat suatu riwayat ; Beliau bertanya kepada keluarganya tentang lauk yang tersedia. Keluarga beliau menjawab:

مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ

“Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali cuka,” maka beliau meminta untuk disediakan dan mulai menyantapnya. Lantas berkata:

نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ

“Sebaik-baik lauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk adalah cuka”. [HR Muslim].

Pujian sebagaimana hadits atas bisa bermakna pujian kepada obyek makanan, dan juga bisa ditujukan untuk menghibur keluarga. Tetapi, tidak berarti pengutamaan cuka di atas segala makanan.

Begitulah sekelumit kisah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan makanan, yang menjadi kebutuhan penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Beliau tidak mencela dan selalu bersikap qanâ’ah (menerima) dengan apa yang tersedia.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk meneladani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, secara lahir maupun batin.

(Sumber: Syarh Riyâdhush Shâlihin, Syaikh al-‘Utsaimîn. Bahjatun-Nâzhirîn, Syaikh Salîm al Hilâli).

Disarikan dari almanhaj.or.id

 

Jangan Mencela Makanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *