menyerah

Sering kita mengatakan “gue Muslim”, bahkan kita mengatakan kalimat tersebut dengan bangganya. Agama Islam telah kita peluk selama kurang lebih 17 tahun, akan tetapi pernahkah terbesit dalam pikiran kita, “apa sih sebenarnya arti kata islam? Atau apa sih muslim?” Padahal inilah agama kita, namun arti secara bahasa saja, banyak diantara kita belum mengetahuinya.

Sekarang bayangkan saja, apabila ada seorang yang bukan Islam telah mantap untuk memeluk agama Islam, kemudian orang tersebut datang kepada kita dan bertanya, “apa sih yang dimaksud dengan Islam?” untuk memantapkan kembali keyakinannya. Lantas jawaban apa yang akan kita lontarkan kepada mereka, “hmmm…hmmm…” sehingga karena jawaban kita yang membuat mereka belum puas, maka orang tersebut pun lari dari agama ini. Wal ‘iyadzu billah.

Yuk, kita simak, pembahasan berikut!

Islam merupakan mashdar dari wazan fi’il aslama-yuslimu-islaaman yang maknanya yakni tunduk, patuh, atau berserah diri. Oleh karena itu, satu kata untuk Islam, yakni menyerah.

Seperti halnya seorang tentara lemah, yang telah dikepung oleh pasukan musuh yang berjumlah sangat banyak, sehingga yang dapat ia lakukan hanya mengangkat sebuah bendera putih yang menandakan bahwasanya ia telah menyerah kepada pasukan tersebut. Otomatis, ia akan meletakkan senjatanya dan tidak lagi melawan pasukan tersebut. Apapun yang diperintahkan kepadanya akan selalu ia laksanakan, kenapa? Karena ia telah menyerah. Jika ia diperintah untuk menggunakan borgol, maka dipakailah borgol tersebut, kenapa? Karena ia telah menyerah. Apabila ia diperintah untuk pergi ke penjara dengan berlari sedangkan para pasukan menggunakan mobil-mobil mereka. Dia pun akan tunduk dan patuh atas apa yang diperintahkannya, tanpa menyanggah atau meminta untuk ikut serta didalam mobil tersebut, kenapa? Karena ia telah menyerah. Ketika setibanya di penjara, dia pun diperintah menanggalkan pakaiannya dan menggunakan baju penjara, maka dia pun akan melakukan hal tersebut tanpa protes, apakah baju tersebut kebesaran atau kekecilan, kenapa? Karena ia telah menyerah, sehingga dipakailah baju penjara tersebut. Itulah hakekatnya apabila kita telah ber-syahadat dan mengaku bahwa kita adalah seorang muslim. Patut bagi kita untuk menaati segala perintah yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan tanpa kita bertanya, menyanggah ataupun mendahului pemikiran kita dibandingkan perintah-Nya, serta kita meninggalkan segala larangan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, kenapa? Karena sejatinya kita telah MENYERAH.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah (Wahai Muhammad), “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Rabb seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)“. (QS Al An’am :162-163)

Ayat tersebut menjelaskan agar kita sebagai seorang muslim untuk menyerahkan semuanya kepada Allah ‘azza wa jalla, sekalipun hidup dan mati kita.

Allah subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alayhissallam untuk berserah diri kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

(Ingatlah) ketika Rabb-nya berfirman kepadanya (Ibrahim), ‘Berserahdirilah!’ Dia menjawab: ‘Aku berserah diri kepada Rabb seluruh alam.’” (Al-Baqarah: 131)

Oleh karena itu, apabila Allah dan Rasul-Nya telah membuat keputusan maka yang kita lakukan adalah “sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat)”.

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An Nur : 51)

Seandainya kita adalah seorang Muslim dan kita bangga dengan sebutan Muslim, maka hanya ada dua jawaban dalam menanggapi seruan Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam yakni dengar…taat…dengar…taat… dan bukan sebaliknya, “kami dengar dan kami bermaksiat atau membangkang atau menyanggah,” dan sebagainya.

Tidak pantas bagi seorang muslim jika mendapat sebuah firman Allah ta’ala tetapi ia malah sibuk mencari opsi atau alasan lain dari firman Allah dan sunnah Rasul-Nya agar sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsunya semata. Padahal, jika kita mengaku Muslim dan telah bersaksi bahwa “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” maka seharusnya kita menyerah. Apapun yang diperintahkan, bagaimanapun keadaannya, haruslah kita laksanakan.

Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah kusempurnakan bagimu nikmat dari-Ku, dan Aku telah ridha Islam sebagai agamamu” (QS. Al Maidah: 3)

Bukankah kita tahu bahwa tidak ada paksaan dalam beragama? Allah berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 256,

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah : 256)

Maka dari itu, agama Islam ini merupakan pilihan kita masing-masing dan bukanlah agama kelahiran kita. Banyak diantara kita yang mengaku dirinya seorang Muslim hanya karena kita telah dilahirkan didunia ini sebagai seorang Muslim atau dengan kata lain, agama keluarga kita memang Islam, sehingga tidak ada perbedaan antara yang beragama Islam dengan orang-orang yang tidak beragama Islam.

Allah sangat membenci orang-orang yang demikian yakni orang-orang munafik, yang mereka mengaku dirinya seorang Muslim tetapi tidak pernah taat kepada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (menyerah).

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS An Nisa : 145)

Ingatlah, tujuan akhir perjalanan kita adalah surga dan syarat untuk mendapatkan surga Allah adalah hanya dengan menjadikan dirinya sebagai seorang Muslim. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)

Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, Aku adalah Zat yang Maha Kaya dan paling tidak membutuhkan sekutu, oleh sebab itu barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang dia mempersekutukan sesuatu dengan-Ku di dalam amalnya itu maka pasti Aku akan telantarkan dia bersama kesyirikannya itu. (HR. Muslim)

Ketahuilah bahwa Allah ta’ala lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dibandingkan sayangnya seorang ibu kepada bayinya. Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari no. 5999 dan Muslim no. 2754)

Oleh sebab itulah, Allah ‘azza wa jalla memberikan aturan-aturan dan batasan-batasan kepada hamba-Nya karena kasih sayang Allah pada hamba-hamba-Nya. Apa jadinya apabila dunia ini tanpa aturan, maka setiap manusia akan menjadi liar, bengis, saling membunuh, zina tersebar luas, dan sebagainya. Dengan Al Qur’an dan sunnah Rasulullah serta memahami keduanya dengan pemahaman para sahabat dan ulama-ulama baik zaman dahulu maupun sekarang, kita menjalani kehidupan di dunia dan berpegang teguh kepada keduanya. Kita memahami Islam dengan bersumber dari keduanya sehingga surga Allah lah yang senantiasa kita dambakan.

Bukankah Allah mengetahui mana yang baik bagi kita dan yang buruk bagi kita?

Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

Lantas, apa makna dari Islam menurut pandangan para ulama? Dalam salah satu kitab Ushulu Tsalatsah, Syeikh Muhammad At Tamimi rahimahullah mengatakan, Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.

Yuk, jadilah kita Muslim Sejati yang selalu taat akan perintah-Nya dan selalu menjauhi segala larangan-Nya karena itulah yang seharusnya kita lakukan sebagai seorang yang telah mengaku bahwa “Gue Muslim”. Apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara maka kita ucapkan, “sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami ta’at).”

Ringkasan dari ceramah Ustadz Nuzul Dzikri, Lc dengan judul “Gue Muslim” oleh Naufal Ferdi (SMA N 1 Yogyakarta) dengan sedikit perubahan.

NB : Semoga tidak mengurangi faedah yang dapat diambil dari Ustadz Nuzul Dzikri, Lc, sehingga kami lampirkan video kajian beliau dibawah ini.

Referensi :

Link video : https://www.youtube.com/watch?v=WL7FPUxaXnA

http://muslim.or.id/26891-makna-islam.html

https://almanhaj.or.id/3192-pengertian-islam-dan-tingkatannya.html

https://muslimah.or.id/3599-yang-tidak-engkau-sukai-bisa-jadi-lebih-baik.html

https://buletin.muslim.or.id/akhlaq/rahmat-allah-mendahului-murka-nya

http://muslim.or.id/623-awas-syirik-1.html

Kaum Muslimin, Menyerahlah!
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *