Mengeja Arti Kesungguhan

(Diambil dari kisah nyata pelajar Yogyakarta)

Setengah terakhir surat-surat juz amma. Itu yang kuingat tentang malam itu, ketika berboncengan motor bersamanya melewati jalan-jalan kampung di suatu kota. Dari caranya memilih jalan, aku yakin anak ini berpengalaman menghindari razia-razia polisi. Aku yang ada di belakang, setengah membuka helm untuk mendengar bacaan hafalannya, di surat-surat terakhir juz amma itu. Alhamdulillah waktu itu, walaupun nggak tahu bener/salah cara bacanya, aku sudah menghafal sedikit dari juz amma.

Malam itu ketika pulang dari sekolah, di awal kami berseragam putih abu-abu, dan di semester pertama perkenalanku dengannya (karena kami teman satu kelas), di atas motor plat ibu kota itu, pertama kalinya ia memperdengarkan “sisa” hafalannya. Mengalirlah dari mulutnya bacaan surat-surat pendek dari juz amma. Surat-surat (yang sangat) pendek, bukan barisan Annaba-abasa, bukan pula surat-surat tentang hari kiamat yang lafaznya sulit untuk diucap. Bukan, ia bacakan surat yang begitu pendek, tidak menantang (waktu itu) bagi aku yang dibelakang.

Tapi bersama surat pendek yang ia baca, kusimak benar-benar hafalannya, bersama rasa heran dan kagum karenanya. Heran sekaligus kagum, karena di sekolah dia lebih dikenal sejak SMP sebagai anak gaol nan hitz, anak belakang, anak “dolan”.

Maka sepanjang perjalanan sekira 10 km itu, dia perdengarkan hafalannya, agak berteriak pula agar aku yang ada di belakang ini bisa menyimaknya. Entah apa pikiran pengendara motor lainnya mendengar ada anak “kecil” , berseragam, malam-malam, ngaji “teriak-teriak” di atas motor di jalanan.

Agaknya kemudian ia menyadari keherananku padanya. Mungkin ia sadar, background dan dunia gaul nya yg begitu hitz terlihat aneh untuk membacakan surat-surat pendek itu. Maka kemudian ia berkata kurang lebih “Aku ki ndisik pas SD ki sempet ngapalke surat-surat pendek”. Ya, kebetulan SD nya adalah SD top milik salah satu ormas islam terbesar di Indonesia. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu, ketika kemudian kehidupan glamour lagi hitz zaman SMPnya, membuat ku tak menyangka dan bergumam “mosok cah koyo ngene seneng ngaji sih?”.

Ya, si anak yang bahasa ekstremnya “hampir impossiblue” buat diharapin jadi anak-anak masjid/rohis, anak yang ketika di sekolah lebih sering bolosnya ketimbang masuknya, bolos, ke kantin, main2 sama anak2 gahol lainnya, yang sejak awal ane kira bukan tipe sohib buat ane di kelas, urutan 11 dari 12 cowok lah kira-kira.

Beberapa bulan kemudian

Di semester kedua, masih di tahun pertama masa SMA. Di suatu kamis pagi, di atas bus pariwisata dalam program studi lapangan awkward SMA kami, menuju puncak gunung di sebelah utara, kemudian meluncur ke selatan ke tepian samudera. Masih tentang anak ini. Pada kamis pagi itu, dia sedang berpuasa. Aneh memang, dalam perjalanan bis ratusan kilo memutari satu provinsi, lalu melangkah menanjak di gunung tempat mengambil data, kemudian pada panasnya pantai di pemberhentian selanjutnya, anak ini “justru” berpuasa ketika seisi bis makan minum.

Tapi bukan itu poinnya. Dalam riuh suasana bis yang dipenuhi satu kelas ABG-ABG labil, dalam sorai tawa anak-anaknya, bersama alunan lagu-lagu dari CD bajakan yang diputar di tv dalam bis, si anak ini, mirip beberapa bulan sebelumnya, justru meminta untuk disimak hafalannya, masih di juz amma. Ya, waktu itu, salah satu surat yang kuingat adalah surat al-fajr. Ia bacakan surat itu, meski di beberapa tempat ia masih lupa. Saya yang duduk disamping menyimaknya, sekali lagi dibuat illfeel dan heran karenanya. Gimana enggak, lha wong satu bis, cowok-cewek itu kompak ngobrol sana sini, nyanyi ini itu, nggosip ketawa ketiwi, lhah ini bocah malah ngaji, hafalan, pas kondisi puasa lagi.

Aneh pol. Tapi takjub pula ku dibuatnya, ternyata masih ada saja, anak SMA negeri yang pengen nambah hafalannya, saat temen2 SMA yg lain lebih sibuk menghafal tangga nada atau cheat-cheat DOTA. Aneh banget, mendinglah kalo si anak udah punya bekal beberapa juz sebelumnya terus pengen nyelesain hafalannya, masih mendinglah, masih keliatan lah bakat2 jadi hafidznya. Lha kalo ini bocah, juz amma aja separo kagak hafal, eh masih lempeng aja “setengah ngimpi”ngafalin quran, gimana caranya coba?

Nah begitu, dalam kurun kurang lebih satu semester itu, ia terus berusaha menambah hafalannya, meski masih saja berkutat di juz amma. Mungkin dengan logika saat itu, aku berfikir dia lulus SMA dengan hafalan juz amma saja sudah luar biasa. Jumlah yang sedikit memang, tapi poin kesungguhan dan tekad memperbaiki dirinya itu yang bikin takjub dan kemudian Allah mudahkan langkahnya.

Dimudahkan gimana? Luar biasa. Siapa yang sangka, si anak yang pas kelas satu itu jagoan bolos dan terbata-bata menghafal juz amma, beberapa bulan selanjutnya, sudah hafal juz 30, 29, dan sebagian juz 28. Semuanya dilakukan ketika masih aktif sekolah senin-sabtu, jam 7-jam 7 malam (plus aktivitas organisasi).

Siapa yang sangka pula, begitu luar biasanya, ketika kurang lebih setahun kemudian, ketika ia pindah halauan menghafal dari depan (karena sulitnya lafadz juz2 akhir al-quran), ia sudah berhasil menghafal surat Al-Baqoroh, 286 ayatnya, hampir 3 juz panjangnya, ia hafal. Iya, ini si anak yang sama, yang setaun sebelumnya masih berjuang menghafal juz amma. Ini anak yang sama, yang cuma modal sisa-sisa hafalan waktu SD nya, dan ia berusaha, dalam sekurun setaun masa SMA, dalam aktif organisasinya, kemudian ia salip hafalan hampir semua manusia di SMA nya, yang mungkin punya start yang lebih bagus, yang bahkan kemudian hampir semua anak ROHIS ia ungguli hafalannya, bahkan meski ia jauh terlambat memulai.

Selesai? Tidak ternyata. Tekad menghafal quran yang dulu mungkin bagaikan kabut mimpi di padang pasir di siang bolong itu ternyata Allah mudahkan dan buat nyata, ketika kemudian, di akhir waktu SMA nya, bocah yang pada kelas satu masih menghafal juz amma ini, sudah menghafal hingga surat Al-An’am, ratusan halaman dari depan, ditambah beberapa juz di belakang yang terlebih dahulu dia hafal.

Ketahuilah, dia melakukan semuanya ketika masih aktif bersekolah. Asrama kah dia? Tidak sama sekali. Dia bukan anak pondok, sama seperti murid lainnya, yang belasan km tiap hari berangkat ke sekolahnya, lalu pulang di malam hari ke rumahnya. Bahasa arab? Jangan tanya, hadza hadzihi saja mungkin baru ia pelajari lagi di SMA, maka dalam hafalan qurannya waktu itu, hampir sama sekali tak bermodalkan kosakata bahasa arab.

Ya, begitu luar biasanya, ketika ternyata tidak ada pelajaran menghafal quran sama sekali di sekolah negeri kami. Mungkin ada, satu ayat saja per semesternya, sesuai hafalan di LKS agama. Selebihnya? Sama sekali tidak ada. Maka dia sama seperti murid-murid lainnya, bahkan melihat keadaannya, mungkin seharusnya dia tertinggal di belakang, karena begitu sibuknya dia semasa SMA. Tapi ternyata kesungguhan mengalahkan itu semua. Atas taufiq dari Allah, maka betapa indahnya, ketika diri menjadi saksi, melihat di saku bajunya hampir selalu ada mushaf kecil disana.

Maka betapa indahnya, menjadi saksi si bocah, yang dulu begitu hitz gaol, kemudian kerap memaksa temannya utk menyimak hafalan qurannya. Atau di dalam kelasnya, ketika guru sedang tidak ada, dalam laci meja yang tersimpan mushaf di dalamnya, ia buka mushafnya, murojaah, murojaah hafalannya. Maka betapa indahnya, ketika dalam hampir tiap kesempatan, bahkan ketika menunggu di lampu merah, cepat ia raih mushaf di saku bajunya, ia buka, memurojaah hafalannya, di tengah-tengah perempatan kota.

Maka betapa indahnya, mendengarnya berganti-ganti mushaf, yang kadang kemudian kaget ketika lampu hijau menyala, terburu buru, kemudian mushaf itu jatuh dari saku jaketnya. Itu semua sebagai tanda, betapa sering ia bergaul dengan mushafnya, padahal dulu mungkin tangga-tangga nada lebih lekat di pikirannya, atau gombal-gombal ke wanita menjadi kelihaiannya. Tapi kemudian betapa Allah mudahkan, ia ungguli semua kawan-kawannya yang memiliki modal jauh lebih banyak pada awalnya.

Maka betapa indahnya, ketika kemudian di tiap obrolan dengan kawannya, yang ia keluhkan dan diskusikan adalah tentang hafalan qurannya, bukan tentang romantika pacar cinta dusta, atau tentang gank absurd ala pelajar lainnya, atau tentang koleksi lagu, prestasi ngeband, atau keahlian lainnya. Bukan, yang ia keluhkan adalah “kenapa ya sulit murojaahnya”, yang ia analisis adalah “mushaf apa yg paling enak buat hafalan”, kemudian dia berebut membeli mushaf hafalannya.

(bersambung insyaa Allaah).

-Majeelis Dakwah Remaja-

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Yuk donasi Untuk kemajuan Majeedr dan program yang lain :

Bank BNI Syariah : 0396 1116 18 ( a.n. Hernawan Fa’iz Abdillah )
Konfirmasi donasi lewat sms/WA : 085725901701
Kirim pesan dengan format mudah : Nama#Asal#Nominal#(Bank)

Contoh : Abdurrahman#Jakarta#1juta#BNI Syariah
Mari infaq-kan harta kita di jalan Allah

Follow us !
Facebook : Majeelis Dakwah Remaja
LINE : @nph3562e
Instagram : @majeedr1

Mengeja Arti Kesungguhan
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *