Diantara bentuk penjagaan Allah kepada hambanya adalah Dia menjaga agama dan iman-nya, dan Allah menjaganya dari syubhat (kerancuan pemikiran) yang menyesatkan, dan dari gelora syahwat yang haram, dan Allah menjaganya ketika ia menghadapi kematian, hingga ia mati di atas keimanan. Dengan penjagaan ini, seorang hamba tidak akan melakukan kemaksiyatan maupun perbuatan keji lainnya, dan itu adalah nikmat yang besar untuknya. Sebaliknya orang yang lancang berbuat maksiyat, enteng menerjang larangan, biasa-biasa aja pas berbuat dosa, itu adalah tanda kalau ia telah kehilangan penjagaannya.

Praktik riilnya, ambillah contoh; ber-internet misalnya. Apa yang kita buka? apakah kita membuka situs penuh nasihat? atau justru konten pengundang syahwat? jika nasihat yang kita buka, bersyukurlah atasnya. Akan tetapi kalau pengumbar nafsu yang kita buka, dan bahkan merasa biasa ketika melakukannya, takutlah karena pada saat itu ia telah kehilangan penjagaanNya.

Seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari, bila ada orang yang selamat dari sebuah kejadian yang ‘mematikan’, atau lolos dari ‘maut’ semisal kecelakaan, orang-orang akan mengatakan bahwa dia mendapat penjagaan dari Allah. Tidak salah memang, karena tidak ada yang dapat menghindarkan sebuah kemudhorotan kecuali Allah, sebagaimana tidak ada yang dapat memberikan kemanfaatan sedikitpun kecuali Allah. Akan tetapi disana terdapat penjagaan dalam bentuk lain yang kebanyakan manusia tidak menyadarinya. Padahal ia adalah penjagaan terbesar Allah kepada hambanya, yang tidak diberikan kecuali kepada orang yang Ia kehendaki. Sungguh beruntunglah orang yang mendapat penjagaan ini disaat manusia luput mendapatkannya, atau bahkan -seolah- tidak membutuhkannya.

Dan sesungguhnya Nabi SAW telah mengabarkan kepada kita bagaimana mendapatkan penjagaan Allah ini. Sebagaimana yang bisa kita ambil dari potongan hadits yang panjang, yang diriwayatkan dari sahabat ibnu abbas:

احفَظِ الله يَحْفَظْك

“Jagalah Allah, niscaya Ia akan menjagamu”

Potongan hadits di atas memiliki makna yang sangat agung bagi yang mau merenungkannya. Di dalamnya terdapat wasiat yang mendalam, yang sepantasnya seorang muslim saling berwasiat dengannya. Sebagaimana ulama-ulama terdahulu berkata “Jika kau ingin mewasiati istrimu, atau saudaramu, atau anak-anakmu, nasihatilah mereka dengan perkataan ‘jagalah Allah! Niscaya Ia akan menjagamu'”

Yang dimaksud dengan ‘Jagalah Allah’ disini ialah menjaga batas-batas hukumnya dengan tidak menerjangnya, ia menjaga hak-hak Allah dengan memenuhinya, serta menjaga perintah dan laranganNya. Disanalah bentuk penjagaan hamba kepada Rabbnya, maka barangsiapa yang memenuhi hal-hal di atas, berarti ia telah menjadi seorang penjaga hak-hak pemeliharaNya, dan untuknya-lah janji Allah yang telah dijanjikan di dalam kitabNya:

هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ؛ مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَن بِالْغَيْبِ وَجَاء بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

Hafidz dalam ayat ini sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar, yakni mereka yang menjaga perintah-perintah Allah. Maka demikianlah, siapa yang menjaga hak-hak Robbnya, niscaya Allah -Robbul ‘Alamiien- akan menjaga dirinya

Lantas bagaimanakah bentuk penjagaan Allah yang terbesar itu? Dalam potongan kata selanjutnya ‘..Niscaya Ia akan menjagamu

Ibnu Rojab al Hambaly menerangkan bahwa penjagaan Allah kepada hamba itu ada dua:

Pertama, penjagaan Allah kepada hambanya dalam masalah-masalah dunia, semisal Allah menjaga tubuhnya, menjaga anak-anaknya, keluarganya, dan harta-hartanya dari berbagai mara bahaya dan keburukan. Oleh karena itu, sesungguhnya ketaqwaan kita kepada Allah dapat membentengi diri-diri kita dari berbagai keburukan dan mara-bahaya di dunia ini. Sebagaimana perkataan sebagian ulama’:

“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, sungguh ia telah menjaga dirinya sendiri. Dan barang siapa yang lemah ketaqwaannya kepada Allah, sungguh ia telah melemahkan dirinya sendiri. Dan Allah maha cukup darinya.”

Juga perkatan Ali bin Abi Tholib

“Tidaklah petaka turun, kecuali karena dosa, dan tidaklah petaka diangkat, kecuali dengan taubat.” [Ad-Dâ` wa Ad-Dawâ` hal. 118]

Kedua, dan inilah penjagaan yang terbesar. Yakni Allah menjaga agama dan iman-nya, dan Allah menjaganya dari syubhat (kerancuan pemikiran) yang menyesatkan, dan dari gelora syahwat yang haram, dan Allah menjaganya ketika ia menghadapi kematian, hingga ia mati di atas keimanan.

Pada penjagaan Allah yang kedua inilah terdapat kenikmatan yang sangat besar, inilah penjagaan yang telah menyelamatkan Yusuf dari ajakan keji istri Al-Aziz, dan menyelamatkan hamba-hamba lainnya untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Akan tetapi amat sulit menemukan penjagaan ini di masa sekarang, di tengah tersebarnya berbagai fitnah, kemaksiyatan, pelanggaran terhadap batasan-batasanNya, sungguh ini merupakan tanda hilangnya penjagaan Allah kepada hambanya.

Maka bergembira-lah engkau wahai orang yang telah Allah jauhkan dari kemaksiyatan, bagi mereka yang masih kokoh menjalankan sunnah ditengah rusaknya ummah, karena itu adalah tanda penjagaan Allah untukmu. Bergembiralah orang yang bisa menghabiskan waktunya untuk kebaikan dan menjaga hidupnya untuk ketaatan. Bergembiralah wahai engkau yang tidak tergoda bujuk syahwat diri dan tidak terjebak dalam syubhat hati. Untuk laki-laki penjaga shalat jama’ah, wanita penjaga hijaab, untukmu yang senantiasa menjaga perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dan hendaknya bersedih, wahai orang-orang yang mudah menjalankan kemaksiyatan, latah melakukan keharoman. Bersedihlah orang yang membudak kepada hawa nafsunya dan tunduk kepada syubhat pemikirannya, karena ia telah kehilangan penjagaan RobbNya.

Marilah kita tanyakan kepada diri kita sendiri, adakah kita orang yang senantiasa menjaga Robb kita? Atau malah kita telah kehilangan penjagaanNya? Lihatlah kita dalam kehidupan sehari-hari. Ambillah misal di depan dunia maya. Apa yang engkau saksikan? Situs apa yang kau buka? Apakah engkau sedang menikmati ilmu dan nasihat? Atau justru tontonan porno yang kau buka? dan kau terlalaikan dari ibadah kepadaNya?

Bagaimanakah kita dalam kehidupan sehari-hari? Adakah hati kita pedih melihat kemungkaran? Masihkah rasa ingkar di dalamnya? Atau justru kita sudah merasa biasa dengan kemaksiyatan? Tenang-tenang saja di tengah kemungkaran? Tanyakanlah kepada hatimu..karena hati yang hidup adalah hati yang senantiasa berada dalam penjagaannya. Dan kematian bagi hati, ketika ia telah kehilangan penjagaannya.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Binasalah siapa saja yang hatinya tidak dapat mengenali mana yang ma’ruf dan mana yang mungkar.”

Dan Ibn Syubrumah rahimahullah berkata:
“Aku heran terhadap manusia yang menjaga makanannya dalam keadaan takut terhadap penyakit, akan tetapi dia tidak menjaga dari perbuatan dosa dalam keadaan takut ancaman neraka.” (Siyar A’lam An-Nubala, 6/348).

Takutlah kepadaNya, penuhilah hak-hakNya, jagalah batasan-batasanNya, Niscaya kemanisan penjagaanNya akan engkau dapatkan.

Artikel majeedr.com
Maroji’
Jami’ul ‘uluumi wal hikam, Ibnu Rojab, syamilah
Mutiara Salaf, Dzulqarnain.net
Mutiara Salaf, Abuayaz.blogspot.com

Merindukan PenjagaanNya..
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *