“Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”

(Az-Zumar:9)

 

“Salah satu perbedaan orang berilmu dan belum berilmu adalah apabila :

1)Kita melihat orang berilmu melakukan sesuatu yang tidak biasa dari biasanya pasti akan terbesit baginya suatu alasan berupa dalil.

2)Dan apabila orang belum berilmu melakukan hal yang diluar kebiasaan maka tidak terbesit sesuatu apapun.”

 

Penjelasan :

Dengan Ilmu, maka orang lain akan semakin tidak mencurigaimu karena mempunyai illah (alasan) yang tersembunyi, dengan Ilmu yang benar tentunya. Karena nilai gross-rate dari sebuah Knowledge akan selalu naik dan berbanding terbalik dengan Wealth.

Dengan Ilmu yang essential, maka seseorang akan terlihat dan bisa jadi memang lebih dibanding yang tanpa mempunyai Ilmu. Ilmu yang paling essential adalah Wahyu itu sendiri, dan tidak menutup kemungkinan Ilmu yang lain jugalah essensial. Semua tempat pada tempatnya, harus ada yang belajar ini dan harus ada yang belajar itu. Karena sekarang, untuk menjadi Polymath sangatlah sulit.

Coba lihat peraih nobel dalam masa kontemporer ini, kebanyakan mereka sudah tua. Karena overlaping keilmuannya sendiri sangatlah panjang. Juga lihatlah sekarang pada masa kini, belum ada yang melebihi keilmuan Ibn Baz semisalnya dalam agama sejak beliau wafat. Berbeda dengan masa lalu, kebanyakan Polymath masih muda seperti Ibn Taymiyyah, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Leonardo Da Vinci. Karena pada masa mereka keilmuan dalam masa berkmbang. Dan pada masa kita sudah panjang, dan untuk overlapingnya sendiri dibutuhkan waktu yang panjang.

 

Adapun dalam kelimuan Wahyu,

Rasulullah  juga telah bersabda :

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusia pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tsb) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu, Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)”

[HR.Bukhari dalam Kitab Al-Ilm (100), dan Muslim dalam Kitab Al-Ilm (2673)]

Ulama pada masa ini semakin sedikit dengan banyaknya yang berani berbicara tanpa sebuah dalil yang jelas, dan tanpa cara istinbath dalil dengan benar.

Kami qiyaskan,

Ada seorang dokter yang pakar dalam bidang kanker payudara lalu dia berani mengambil proyek “Burj Mamlakah”-nya Bin Laden Group menggantikan Adrian Smith untuk memimpin proyek tentu akan amburadul, atau ada seorang pesulap yang mahir lalu mendadak menjadi penafsir ulung tentu tidak akan bisa diterima perkataanya.

 

Kesimpulan :

1) Orang yang berilmu dan yang tidak tentu akan berbeda.

“…Allah akan meninggikan beberapa derajat orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(Al Mujadalah 11)

2) Setiap orang mempunyai kepakaran dalam disiplin ilmu sendiri-sendiri, untuk menjadi Polymath pada masa kontemporer ini bisa, namun prosesnya akan sangat lama. Penulis sendiri ingin anaknya menjadi seorang Polymath.

“A human being should be able to change a diaper, plan an invasion, butcher a hog, conn a ship, design a building, write a sonnet, balance accounts, build a wall, set a bone, comfort the dying, take orders, give orders, cooperate, act alone, solve equations, analyze a new problem, pitch manure, program a computer, cook a tasty meal, fight efficiently, die gallantly. Specialization is for insects.”

Robert A. Heinlein, Time Enough for Love (1973)
Footnote :
Polymath, orang yang keahliannya meliputi sejumlah besar bidang studi yang berbeda.
Perbedaan
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *