Sebuah nasehat untuk Saudariku Muslimah agar jangan memberanikan diri untuk safar tanpa mahram, Maka Renungkanlah dengan Hati yang Jernih

Sudah tidak samar lagi dalam pikiran kita bahwasahnya agama Islam ini adalah sebuah agama yang sempurna tanpa ada kekurangannya barang sedikitpun. Sampai-sampai agama ini tidak butuh lagi penambahan apalagi pengurangan yang justru akan mengurungi kesempurnaan agama ini.
Agama Islam juga merupakan agama yang begitu indah. Banyak sekali syariat dalam agama ini yang penuh nilai keindahan.

Dan salah satu aplikasi dari keindahan dan kesempurnaan Islam yaitu agama ini selalu menjaga hak wanita. Agama ini mengharuskan wanita untuk berhijab untuk menjaga kemuliannya.
Selain itu agama ini juga melarang seorang wanita untuk melakukan safar (perjalanan jauh) tanpa disertai mahram. Tentu hal ini bukan untuk membatasi hak kalian sebagai seorang wanita. Akan tetapi demi menjaga kemulian kalian, demi menjaga izzah kalian yang izzah itu tentu tidak layak dibagikan secara gratis kepada setiap orang.

Maka dari itu Rasul kita –yang tentu kita semua ingin agar kita dipertemukan dengan beliau di surga, mendapat syafa’atnya-, Rasul kita yang senantiasa kita rindu untuk bertemu dengannya pernah bersabda

لاَ تُسَافِرِ المَرْأَةُ ثَلاَثًا إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ

Janganlah seorang wanita itu melakukan safar (diulang tiga kali) kecuali dengan mahram” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dan sebagai seorang muslim yang sejati, tentu sikap kita adalah pasrah dengan apa yang beliau sabdakan.. Mungkin kalian semua tidak lupa dengan kisah para Shahabiyah yang dengan taslimnya mereka menerima sebuah syariat yaitu ketika turun perintah hijab. Tentu bukankah sikap mereka layak untuk ditiru?? Renungkanlah dengan hati yang jernih.

Bahkan, dalam hadits lain Rasulullah semakin menegaskan dengan sabdanya

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ

Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan sehari-semalam kecuali dengan mahram.” (HR. Bukhari 1088)

Perlu dipahami bahwa sehari-semalam disitu bukanlah batasan, karena seseorang naik pesawat itu sampai jarak yang jauh-pun boleh dibilang tidak sampai sehari-semalam, yang nanti akan dijelaskan lagi.

Sebagai pelengkap pembahasan, marilah kita tilik dan tengok penjelasan ulama dalam masalah ini
Penjelasan dari al-Hafidz Ibnu Hajar :

“Dari hadits itu menunjukkan atas larangan (tidak boleh) safar bagi perempuan tanpa mahram dan itu adalah ijma” (kesepakatan) selain pada Haji, Umrah, dan hijrah dari negeri Syirik. Dan diantara ulama ada yang menjadikan mahram itu sebagai syarat haji.” (Fathul Baari 2/568)

Penjelasan dari Imam Nawawi dengan membawakan ucapannya al-Qodhi :
“Para ulama sepakat bahwa wanita tidaklah boleh pergi (safar yaitu perjalanan jauh) selain haji dan umrah kecuali dengan mahram. Dikecualikan dari larangan yaitu hijroh dari negeri perang, mereka juga sepakat wajib atas wanita untuk hijrah ke negeri Islam sekalipun tdk ada mahram. Perbedaan antara keduanya bahwasahnya tinggal di negeri kafir itu haram jika tidak mampu menampakkan agama atau khawatir akan agama dan dirinya, berbeda dengan mengakhirkan haji, karena ulama berselisih apakah haji itu harus segera atau boleh ditunda-tunda.” (Syarah Shohih Muslim 9/104)

Batasan Safar

Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama (dan yang rojih adalah pendapat 3) :
Pertama : Jarak qashar adalah 48 mil, atau setara dengan 85 km. Ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, az-Zuhri. Ini juga madzhab Imam Malik, al-Laits, asy-Syafi’I, Ahmad, Ishaq.

Sehingga kalau dengan ini, maka tidak boleh seorang wanita melakukan perjalanan lebih dari 85 km tanpa disertai mahram dan sudah bolehnya dia menqoshor shalat dalam batasan itu.

Hanya saja pendapat ini kurang kuat dikarenakan Rasulullah pernah mengqashar shalat dalam perjalanan kurang dari itu. Padahal qashar tidak boleh dilakukan kecuali pada safar.

Dari Anas bin Malik, ia mengatakan, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan perjalanan sejauh tiga mil atau tiga farsakh, beliau shalat dua rakaat.” (HR. Muslim 691).

Hadits di atas tegas bahwa batasan 85 kilo (16 farsakh) adalah tidak tepat.

Kedua : Jarak qashar adalah jarak perjalanan tiga hari tiga malam dengan unta. Ini pendapat Ibnu Mas’ud, asy-Sya’bi, an-Nakho’I, ats-Tsuri, dan ini madzhab Imam Abu Hanifah.

Pendapat ini kurang tepat karena tegas sekali dengan hadits berikut
Tidak halal bagi wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan sehari-semalam kecuali dengan mahram.” (HR. Bukhari 1088)

Ketiga : Qashar tidak memiliki jarak tertentu dan batasan tertentu. Akan tetapi dikembalikan kepada kebiasaan pada masyarakat setempat. Ini adalah madzhab Dzahiriyyah, Ibnu Hazm, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan pendapat yang nampak dari Ibnu Hajar dalam Fathul Baari dan Imam Nawawi dalam Syarah Shohih Muslim. Dan ini yang tepat, Wallahu a’lam

Hal ini berdasarkan kaidah Fiqih, “Adat itu bisa dijadikan dasar manakala syariat tidak memberi batasan”

Karena syariat tidak memberikan batasan mengenai safar, maka hal ini dikembalikan ke hukum masyarakat. Jadi ketika masyarakat menganggap pergi ke suatu tempat adalah safar maka itu safar jika tidak maka bukanlah safar.
Kaidahnya : Jika seseorang berkata : aku akan bersafar ke negeri fulan, dan dia menyiapkan untuk perjelanan tersebut seperti orang yang akan safar, misalnya mempersiapkan bekal dan sejenisnya. Wallahu a’lam (Shahih Fiqih Sunnah Bab Batasan Safar)

Siapa yang Disebut Sebagai Mahram dalam Masalah Ini?

Mahram bagi wanita disini yang dimaksud adalah laki-laki yang diharamkan dinikahi untuk selamanya, misalnya ayah, suami, anak laki-lakinya (setelah baligh), saudara laki-lakinya, ayah mertua, menantu laki-laki.

Dikeluarkan dari istilah mahram dalam masalah ini yaitu wanita sekalipun itu adalah ibunya karena wanita dalam masalah ini tidak masuk dalam istilah mahram untuk wanita. Kemudian laki-laki yang haram dinikahi sementara waktu, misalnya paman suami, saudara laki-laki suami.
(Silahkan lihat lebih lengkap penjelasannya dalam Syarah Shohih Muslim karangan Imam Nawawi 9/105)

Safar Wanita Penuh Dilema (Sebuah Nasehat)
Tagged on:                         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *