Saudaraku yang semoga Allah merahmati saya dan kalian. Sudah barang tentu kita sebagai seorang muslim ini sangat ingin jika doa yang kita panjatkan itu dikabulkan oleh Allah. Dan salah satu caranya adalah dengan mengambil wasilah (perantara)  dalam berdoa kepada Allah. Sebagaimana dalam firman Allah

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

 

“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepadaNya” (Al-Maidah : 35)

 

Hanya saja mungkin kita akan bertanya-tanya, perantara seperti apa yang dimaksud? Apakah segala sesuatu itu bisa dijadikan perantara sekalipun tidak ada dalilnya?? Tentu saja jawabannya tidak.

 

Dan berikut kami akan menjelaskan sedikit tentang macam-macam tawassul yang disyariatkan atau minimalnya hukumnya boleh untuk diambil sebagai wasilah ketika berdoa.

 

1. Tawassul dengan amal sholih

 

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita untuk bertawassul dengan amal sholih yang dibarengi dengan ketakwaan kita kepada Allah. Dan inilah yang dimaksud wasilah dalam Surat Al-Maidah : 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepadaNya” (Al-Maidah :35)

 

Berkata Ibnu Jarir (seorang ulama besar ahli tafsir),

وابتغوا إليه الوسيلة”، يقول: واطلبوا القربة إليه بالعمل بما يرضيه

Yang dimaksud dengan “Carilah wasilah“, berkata Ibnu Jarir tentang maksudnya : meminta kedekataan kepada Allah dengan amal yang diridhoi oleh Allah (Tafsir Ibu Jarir ath-Thobari 10/290)

 

Selain itu Allah juga berfirman

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah : 5-6)

 

Dalam ayat itu disebutkan amal sholih (yaitu pemyembahan hanya kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah) baru kemudian berdoa agar ditunjukkan jalan yang lurus.

Allah juga berfirman,

الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yaitu orang-orang yang berdoa, ‘Ya Rabb kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan limdungilah dari adzab Neraka.” (Ali Imron : 16)

Dalam ayat itu juga disebutkan amal sholih dulu yaitu beriman kepada Allah, baru setelah itu berdoa agar dosa diampuni dan berdoa agar dilindungi dari Neraka. Dan selain ayat-ayat itu dalam al-Qur’an

 

Dalil lainnya yaitu kisah 3 orang yang terperangkap dalam gua, kemudian ketiganya menyebutkan amal-sholih yang pernah mereka lakukan sehingga dengan itu Allah selamatkan mereka dari batu yang menutupi mulut gua. Kisah ini ada dalam HR. Bukhori no 2272, Muslim no 2743 dari Shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma

 

Selain itu para ulama telah berijma’ tentang bolehnya hal ini

أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى جَوَازِ التَّوَسُّل إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالأَْعْمَال الصَّالِحَةِ الَّتِي يَعْمَلَهَا الإِْنْسَانُ مُتَقَرِّبًا بِهَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Para fuqoha telah bersepakat atas bolehnya Tawaassul kepada Allah dengan amal sholih yang diamalkan oleh manusia untuk mendekatkan diri dengan amal tadi kepada Allah Ta’ala (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 14/152)

 

2. Tawassul dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

 

Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الأَْسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan Allah memiliki Asmaul Husna (Nama-Nama yang Terbaik), maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-namaNya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’rof : 180)

 

Selain itu ada hadits-hadits yang warid yang mengisahkan bahwa Rasulullah bertawassul dengan Nama-Nama dan Sifat Allah dalam doanya. Diantaranya doa Nabi

أَسْأَلُك بِكُل اسْمٍ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَك، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِك، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِك، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَل الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ بَصَرِي، وَجَلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

 

Aku memohon kepadaMu dengan seluruh Nama yang Engkau menamai diriMu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam KitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang diantara hambaMu, atau yang engkau simpan dalam ilmu ghoib disisiMu, agar Engkau menjadikan al-Qur’an sebagai pelita hatiku. Sebagai cahaya bagi penglihatanku. Sebagai penawar kegelisahanku. Sebagai penghalau kegundahanku.” (HR. Ahmad 1/193, Hakim. Dishohihkan Ahmad Syakir dalam ta’liqnya kepada Musnad)

 

Kemudian diceritakan dalam hadits bahwa ada seseorang yang berdoa :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ، الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu. Sesungguhnya bagiMu segala pujian, Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa (Al-Mannan), Pencipta Langit dan Bumi, tanpa contoh sebelumnya. Yaa Rabb yang memiliki keagungan dan kemuliaan, Yaa Rabb Yang Maha Hidup, Yaa Rabb Yang mengurusi segala sesuatu.”

Kemudian Nabi bersabda, “Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan Nama-Nya yang paling agung yang apabila seseorang berdoa akan dikabulkan, dan apabila ia meminta akan dipenuhi permintaannya” (HR. Abu Dawud no 1495, Dishahihkan oleh Al-Albani)

 

Selain itu juga telah ada kesepakatan diantara ulama tentang sunnahnya bertawassul dengan Nama dan Sifat Allah

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ التَّوَسُّل إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ مُسْتَحَبٌّ لأَِيِّ شَأْنٍ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالآْخِرَةِ

“Para Fuqoha sepakat bahwa Tawassul kepada Allah dengan NamaNya dan SifatNya adalah perkara yang dianjurkan (sunnah/mustahab) baik itu perkara dunia ataupun perkara akhirat.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 14/151)

 

3. Tawassul dengan Iman Kita dan Kecintaan Kita Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

 

Semisal dengan mengatakan dalam doanya, “Allahumma as-aluka biimanii ila muhammad wa mahhabatih… / Ya Allah aku memohon kepadaMu dengan keimananku kepada Muhammad dan kecintaanku kepadanya agar Engkau…”

 

Hal yang seperti ini boleh, dan ini masuk dalam tawassul dengan amal solih, karena keimanan dan kecintaan kita kepada Nabi adalah sebuah amal sholih. Dalilnya sebagaimana yang telah lalu.

 

لاَ خِلاَفَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ فِي التَّوَسُّل بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مَعْنَى الإِْيمَانِ بِهِ وَمَحَبَّتِهِ

“Tidak ada perbedaan diantara ulama tentang Tawassul kepada Nabi dalam artian Iman kepadanya dan Kecintaan kepadanya” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah 14/156)

 

4. Tawassul dengan doa Orang Yang Sholih yang Masih Hidup

 

Yaitu dengan kita meminta orang yang kita anggap sholih untuk mendoakan kita selama orang tersebut masih hidup.

Dalilnya adalah hadits-hadits mutawatir dimana Nabi diminta agar mendoakan seseorang ketika masih hidup.

a. Hadits Riwayat Anas bin Malik yang menceritakan sebuah kisah ketika saat itu sedang musim kemarau, ketika Rasulullah berkhutbah di hari Jum’at, Tiba-tiba Arab Badui berdiri, ia berkata : ‘Wahai Rasulullah, telah musnah harta dan telah kelaparan keluarga.’ Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdoa : ‘Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami.” Tidak lama kemudian hujan turun (HR Bukhori no 932, 933, 1013 dan Abu Dawud no 1174)

 

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Umar bin Khottob -ketika terjadi paceklik- ia meminta hujan kepada Allah melalui Abbas bin Abdul Muthollib, lalu berkata : “Ya Allah, dahulu kami bertawassul kepadaMu melalui Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. sekarang kami memohon kepadaMu melalui paman Nabi kami, maka berilah kami hujan.” Ia (Anas bin Malik) berkata : “Lalu mereka pun diberi hujan”. (HR. Bukhori no 1010, 3710)

 

Selain itu masalah ini juga tidak ada perbedaan dikalangan ulama mengenai bolehnya tawassul dengan doa Nabi SELAMA HIDUP beliau.

 

Sehingga boleh seorang mukmin meminta saudaranya yang sholih untuk mendoakan dirinya baik itu masalah dunia maupun masalah akhirat. Wallahu a’lam

 

Apakah Tawassul dengan Jah Nabi atau Kedudukan, dan Kemuliaan Nabi Dituntunkan?

 

Misalnya dengan mengatakan, Allahumma inni as-aluka binabiyyika (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadaMu dengan Nabimu), atau as-aluka bijahinnabbiy (aku memohon kepadaMu dengan Jah kedudukan NabiMu, atau as-aluka bihaqqi nabiyyika (Aku memohon kepadaMu dengan hak NabiMu), atau kalimat-kalimat yang semisal .

Mengenai masalah ini, selama seseorang berdoanya masih kepada Allah (BUKAN KEPADA SELAIN ALLAH) hanya kemudian dia bertawassul dengan Jah Nabi, Kedudukan Nabi, Kemuliaan Nabi, maka perkara ini adalah perkara yang masih diperselisihkan dikalangan ulama antara boleh atau Haramnya perbuatan itu.

 

CATATAN : Katakanlan yang shohih adalah yang haram, maka Selama dia masih berdoanya kepada Allah maka dia TIDAK berbuat syirik!!

 

Lalu mana yang benar?

 

Karena dalil-dalil yang menunjukkan untuk berdoa dengan Jah Nabi adalah hadits yang dho’if. Dan selain itu, tentu saja Jah dan kedudukan Nabi berpengaruh untuk beliau, maka apakah itu bisa berpengaruh kepada kita?

Dan masih banyak tawassul lain yang disyariatkan dengan berdasar dalil yang shohih baik dari al-Qur’an maupun Sunnah Nabi, begitu pula ijma kesepakatan ulama. Atau kita bisa bertawassul dengan kecintaan kita kepada Nabi atau keimanan kita kepada Nabi. Wallahu a’lam

 

Silahkan dengar penjelasan Syaikh DR. Kholid al-Muslih (beliau dosen Fiqih di Universitas Qosim) -perlu diketahui pula bahwa beliau ini seorang yang sangat paham sekali dengan ikhtilaf dikalangan ulama

Bisa dilihat disini atau bisa juga disini

 

Washollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam

Tawassul Yang Disyariatkan
Tagged on:                     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *