Kapankah kita merasakan kelezatan sebuah makanan? jawabannya adalah;  pertama, ketika kita tahu bahwa makanan itu memang lezat. Kedua, ketika kita sudah lama tidak merasakan makanan. yups! semakin lama kita tidak makan, tentu membuat kita semakin rindu terhadap makanan. Contoh riilnya, kapankah ayam bakar akan terasa lezat? ya, jika kita tahu, bahwa itu adalah ayam bakar, juga ketika perut kita merasa lapar, tatkala diri rindu pada makanan…

Contoh selanjutnya, kapan kita merasakan segarnya minuman? tentu ketika kita sedang haus, dan kita tahu bahwa minuman itu dapat menghilangkan dahaga (bukan minyak, oli, dll)….

Maka demikian pula, kita akan mengetahui, dan merasakan cinta Allah, ketika kita telah mengenal Allah! dan    konsekuensiya, kita akan rindu kepadaNya. Ya, pertama, kita harus mengenal Allah! Dengan begitu, kita akan rindu kepadaNya. *Oleh karena itu, semakin seseorang mengenal Allah, ia akan semakin rindu kepadaNya.

Semua orang menginginkan kelezatan, maka orang yang berakal, ia akan berusaha meraih kelezatan tersebut, dan menghindari segala sesuatu yang dapat menghalanginya dari kelezatann tersebut. Ia akan berusaha sekuat tenaga, ia akan melakukan apapun untuk kelezatan tersebut. Begitu juga, ia akan tinggalkan segala sesuatu yang tampaknya lezat, tapi menghalanginya dari kelezatan yang sebenarnya.

demikianlah amal-amal kita, Allah telah melarang kita melakukan maksiyat! padahal maksiyat itu tampak lezat, akan tetapi bagi setiap mukmin, maksiyat adalah racun yang tampak seperti sesuatu yang lezat. Ia tinggalkan maksiyat tersebut, untuk meraih kelezatan yang sebenarnya.

Ketahuilah, Allah tidak melarang manusia untuk merasakan kelezatan di dunia, akan tetapi kita dilarang mencicipi kelezatan yang sesaat, yang membuat mereka kehilangan kelezatan yang sesungguhnya. Dan ini adalah bukti cinta Allah kepada hambanya.

Maka ketahuilah, ketaatan itulah kelezatan sesungguhnya, dan kemaksiyatan adalah kepedihan! dan hati, apabila ia sehat,ia bisa membedakan, manakah yang lezat, manakah yang racun, ya.. hati yang sehat akan senantiasa menunjuk keselamatan, sedang hati yang sakit, ia akan tertipu, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya kelezatan yang sesungguhnya! Sebagaimana tubuh manusia, apabila ia sehat, ia bisa merasakan nikmatnya makanan, segarnya minuman, manisnya gula, asinnya garam.Tetapi jika tubuhnya sakit, ia tidak bisa merasakan kelezatan makanan! selezat apapun itu, tidak ada bedanya makanan ini dan itu, semuanya terasa pahit!

begitulah hati, hati yang sehat, ia bisa merasakan kenikmatan, ia bisa membedakan manisnya ketaatan dan pahitnya maksiyat kepada Allah. Ia akan rindu ketaatan sebagaimana tubuh yang lapar rindu kepada makanan, Ia akan sangat rindu kepada Robbnya, karena ia tahu kelezatan yang sesungguhnya. Ia akan membenci kemaksiyatan, karena ia tahu kemaskiyatan membawa petaka kepada dirinya.

Sebaliknya hati yang buruk, ia tidak akan bisa merasakan nikmatnya ketaatan, manisnya ibadah, dan lezatnya ketaqwaan kepada Allah. Bahkan kemaksiyatan terlihat sangat lezat, sangat nikmat, dan ia tidak bisa lepas darinya. Itulah hati… jika ia sehat, maka ia bisa mengenal, kemanakah ia harus berjalan, sedang jika hatinya mati, maka buta-lah arah dan tujuannya.

-hanya hati yang bersih-lah yang kan merasakan rindu kepada penciptanya

Wahai Hati, Mari MencintaiNya!
Tagged on:         

One thought on “Wahai Hati, Mari MencintaiNya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *