Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang selalu memberikan banyak nikmat kepada kita. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad  Shallallaahu alaihi wa salam .

Sadarilah wahai sauara-saudaraku, tidaklah kita akan masuk surga kecuali dengan rahmat dan kebaikan dari Allah. Amalan kita rendah, bahkan surga terlalu mahal bagi kita, surga terlalu mulia apabila kita tukar dengan seluruh amalan kita. Jelaslah hal tersebut seperti hadits yang dibawa oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorang pun yang amalannya dapat memasukkannya ke surga.” Para sahabat bertanya, “Apakah tidak juga engkau wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak pula aku kecuali aku senantiasa dicurahkan oleh Allah keutamaan dan rahmat.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dari sini sudah tampak, wajibnya kita selalu bersyukur kepada Allah apapun kondisi kita di dunia ini. Allah telah memberi kebaikan dan kemuliaan kepada kita, akankah kita tetap kufur akan nikmat Allah??? Bahkan Allah pun memberi kita berbagai nikmat di dunia ini pula serta balasan yang sangat luar biasa indah dan nikmat di akhirat kelak. Allah berfirman di dalam Surat Ar Rahman “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Yang pantas kita harapkan adalah rahmat-Nya, Surga-Nya, Kehidupan bahagia di dunia lebih-lebih di akhirat. Mari pantaskan diri kita untuk mendapatkan itu semua dari Allah Azza wa Jalla.

Wahai saudara-saudaraku, ingatlah, tidak boleh kita lupa apa tujuan kita sebenarnya hidup. Sungguh kehinaan yang masuk akal ketika kita tersesat dan tak mau tau apa tujuan kita hidup dan diciptakan. Dalam suatu ayat yang agung Allah berfirman : “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Apabila kita mendalami ayat ini, pantas bagi kita untuk menangis. Bahkan menangis dengan bercucuran air mata penuh rendah diri dan merasa hina di hadapan Allah. Ya akhi, ya ukhti, Sudah pantas dan wajib bagi kita untuk selalu bertaqwa kepada Allah, terutama dalam hal tauhid dan menjauhi syirik sekecil apapun. Tujuan penciptaan manusia hanya itu, “Menyembah kepada Allah”. Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat 774 H) menyimpulkan bahwa makna ayat di atas adalah, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-Azhim [7/425])

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku- adalah agar mereka mengesakan Aku (Allah, pent) dalam beribadah. Atau dengan ungkapan lain ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ maksudnya adalah agar mereka mentauhidkan Aku; karena tauhid dan ibadah itu adalah sama (tidak bisa dipisahkan, pent).” (lihat I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/33])

Sudahkah kita mentauhidkan Allah??? Sudahkah kita merasa benar dalam menyebah kepada Allah??? Renungi hal itu. Bahkan Nabi Ibrahim dan Muhammad pun, beliau berdo’a memohon kepada Allah agar jauh dari sifat syirik.

Allah ‘azza wa jalla berfirman

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

“Dan tatkala Ibrahim berkata ‘Wahai Rabb-ku, jadikanlah negeri ini menjadi negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan terhadap berhala-berhala” (Ibrahim : 35)

Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sering berkata dalam do’anya

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukanmu dalam keadaan aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepada-Mu dari perbuatan syirik yang tidak aku katahui” (HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Yang demikian cemasnya adalah Ibrahim dan Muhammad, lebih-lebih kita, siapa kita ya akhi, ya ukhti??? apakah pantas kita merasa aman dari kesyirikan dan perusak tauhid??? Hanya kita yang dapat menjawab hal ini. Wahai saudara-saudaraku mari segera perbaiki tauhid kita. Maximalkan segala usaha untuk bertauhid dengan benar dan murni.

Yakinlah, sudah tidak diragukan lagi, pondasi kuat Islam dibangun berawal dari ketauhidan yang murni serta benar-benar menjauhi dan menghancurkan hal kesyirikan. Benarlah bahwa setiap Rasul sejak dahulu hingga Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam akhirul anbiya, diutus dengan materi da’wah yang sama yaitu Da’wah Tauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 59). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Nuh adalah dakwah tauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Tsamud, Kami utus saudara mereka yaitu Shalih. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 73). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Shalih adalah dakwah tauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan kepada kaum Madyan, Kami utus saudara mereka yaitu Syu’aib. Dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. al-A’raaf: 85). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah Nabi Syu’aib adalah dakwah tauhid.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36). Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa dakwah seluruh rasul adalah dakwah tauhid.

Ini bukti bahwa dakwah tauhid adalah yang utama, yang pertama dan wajib kita ketahui dengan sedalam-dalamnya. Bahkan, apabila baik tauhid kita, maka akan baik pula seluruh amalan kita. Pangkalnya adalah tauhid, dan ini sebagai sumber dari benar tidaknya islam dibangun dalam diri setiap manusia.

Wahai pemuda, Begitu miris saat ini kita lihat banyak berbagai kemaksiatan tersebar di mana-mana. Pemandangan kemaksiatan sudah sangat lazim di zaman ini. Seperti sabda Rasulullaah yang terdapat dalam Shahiih al-Bukhari rahimahullah, beliau berkata, Hisyam bin ‘Ammar berkata, Shadaqah bin Khalid meriwayatkan kepada kami (kemudian beliau membawakan sanad yang sampai kepada Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda):


لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْتِيهِمْ يَعْنِي -الْفَقِيرَ- لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِيْـنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


“Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr (minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.”.
(Shahiih al-Bukhari, kitab al-Asyrubah, bab Ma Jaa-a fiiman Yastahillul Khamra wa Yusammihi bighairi Ismihi (X/51, al-Fat-h) ).

Pemuda menjadi sasaran empuk untuk terjerumus dalam keburukan zaman ini. Lihatlah para pemuda yang berzina, para pemuda yang mabuk-mabukan, para pemuda yang rusak akhlaknya terutama terhadap orang tua, Naudzubillaah sungguh syaithan telah mempengaruhinya telah menjebaknya. Tentu kita berlindung dari godaan syaithon tersebut dan hendaknya membekali diri dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

Tanyalah kepada diri kita masing-masing, pantas kah kita bermaksiat kepada Allah, durhaka dengan perintah Allah, dan dengan dengaja acuh terhadap sunah Islam setelah kita memperoleh berbagai kenikmatan yang Allah berikan??? Astaghfirullah, kita begitu hina ya akhi, ya ukhti. Jauh dari kebenaran, jauh dari kesempurnaan Rasulullah dan para sahabat, bahkan dengan para ulama-ulama.

Tak lain dan tak bukan, yang menyebabkan mereka terjerumus dalam dunia hitam itu adalah rendahnya ilmu yang mereka miliki, membangkang atas semua perintah Allah dan kurang perhatian terhadap sunah yang dibawa oleh Rasulullah. Dan tentu kita setuju apabila sangat jarang bahkan tidak ada manusia yang benar-benar bertauhid dengan shahih namun terjerumus dalam kesyirikan. Sangat sulit bagi syaithon mempengaruhi oarng yang bertauhid dengan shahih. Memang tidak kita pungkiri Manusia tidak lepas dari kesalahan dan dosa, namun ingat bahwa setiap berbuat salah atau dosa, maka langsung bertaubat, wajib hal itu, kemudian segera melakukan amalan sholeh yang banyak agar menutupi kesalahan yang telah dibuat. Dan orang bertauhid dengan benar, pasti dia akan selalu berhati-hati sekali agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa.

Oleh karena itu, mari bertauhid dengan benar. Jauhi syirik dengan segala upaya yang ada karena syirik adalah dosa yang sangat besar, seperti Allah berfirman dalam mengkisahkan keluarga Luqman,  

يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم

” wahai anakku, janganlah engkau berbuat syirik kepada Allah karena  sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang besar” (QS. Lukman :13)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan : Luqman adalah seorang hamba sholeh, berkulit hitam yang Allah telah anugrahkan padanya hikmah (pemahaman ilmu dan ta’bir).  Dia telah memberikan wasiat kepada anaknya yang sangat disayangi dan dicintai dengan sesuatu wasiat yang paling afdhol dari perkara yang diketahuinya.  Oleh karenanya, dia memberikan nasehat kepada anaknya yang pertama adalah agar dia menyembah Allah saja dan tidak mensyarikatkan sedikitpun dengan-Nya.  Kemudian dia menjelaskan bahwa kesyirikan itu adalah sebesar-besar kezaliman (Tafsir Ibnu Katsir III / 453)

Pumpung masih remaja, mari segera menuju jalan kebenaran, jalan Islam yang haq. Belajar islam sesuai dengan pemahaman sahabat atau oarng-orang terdahulu yang menjumpai turunnya islam melalui Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa salam. Wahai pemuda selamatkan jiwamu. Surga diperuntukkan untuk orang yang bertaqwa kepada Allah sedangkan neraka diperuntukkan orang yang membangkang dan tidak menjalankan perintah Allah. Mari memilih surga dan pantaskan diri kita akan surga Allah. Semoga Allah mempertemukan kita disurga bersama dengan orang-orang sholeh. Kita cinta Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat yang lain, semoga kita bertemu mereka semua di surga. Aamiin…

Ini hanya sedikit tulisan yang serba rendah, kurang dan penuh kehinaan. Tentu saya menulis ini tidaklah merasa aman dari syrik dan telah murni tauhid. Sungguh saya adalah hamba yang penuh tercela dan kerendahan karena kita ketahui bersama Dzat yang sempurna dan Agung, Sang Penguasa Alam semesta ini hanyalah Allah Subhanahu wa ta’ala. Bahkan penulis sendiri mungkin jauh lebih hina dari yang membaca tulisan ini dan itu adalah hal yang wajar. Hanya saja, teringat ayat Allah

وَالْعَصْرِ(1)  إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa!  Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Q.S. Al Ashr: 1-3 ) .

Wallahua’lamu bisshowab….

Washallallaahu ‘ala nabiyina muhammadin wa ‘ala ali washosbihi wasalam.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

@Gedung PAU Lt.3 UGM (JTETI), Yogyakarta, 25 Dzulqo’dah 1435 H / 18 September 2014

 Abdurrahman Asy-Syaif

Wahai Para Pemuda, Mari Bertauhid !
Tagged on:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *